Minggu, 27 Mei 2018

Kajian Ramadhan : RAMADHAN BAGI HASAN BIN ALI ABI THALIB

(Ilustrasi Sayyidina Ali bin Abi Thalib, KW)


Hasan bin Ali bin Abi Thalib, putra pertama Sayyidina Ali, hampir setiap hari di bulan Ramadhan, menghidangkan makanan bagi orang miskin untuk berbuka. Beliau melayani dan mengatur makanan yang diberikan pada para tamunya, untuk segenap orang miskin yang berada di Madinah kala itu. 

Sebegitu populernya acara tersebut sampai hampir seluruh masyarakat yang ada tahu bahwa bila ingin berbuka dan menikmati makanan nikmat mereka boleh ke tempat Hasan bin Ali. 

Semakin hari semakin banyak orang datang, dan walaupun demikian makanan yang disiapkan selalu mencukupi untuk semua tamu.

Di antara para tamu tersebut, ada satu orang yang pada hari itu membawa pulang makanannya tanpa menyentuhnya. Ia hanya membatalkan dengan sebuah kurma dan 3 teguk air. Dan ini tak luput dari pandangan Beliau. Beliaupun tergelitik untuk bertanya :

"Saudaraku tercinta, tidak seperti yang lain, engkau tidak memakan makananmu, apakah ada keluargamu yang sedang sakit ?. Bila iya, izinkan saya membantu atau minimal bolehkah saya menengoknya ?... Semoga saya bisa melakukan sesuatu." 

Orang tua itu pun menatap Sayyidina Hasan, dan kemudian dengan wajah sedih ia menjawab :

" Maafkan saya, wahai cucu Rasulullah saw, saya hidup sebatang kara, dan saya tidak punya keluarga lagi. Tentang makanan ini, saya ingin berikan kepada seorang lelaki gagah yang selalu saya temui di perkebunan yang ada di dekat rumahku. Setiap hari saya melihatnya kerja di perkebunan itu, dan bila waktu berbuka tiba dia selalu hanya memakan sepotong roti kering yang dibasahi air. Ia bekerja dan bekerja, seperti lelah tak menghampirinya. Demikian pula tatkala duduk beristirahat, saya senantiasa mendengar lantunan ayat Al-Quran yang suci dari mulutnya. Saya tak pernah berbicara dengannya. Tapi saya kagum dan sangat hormat terhadapnya. Hari ini, saya berharap bisa menyenangkannya dengan makanan ini, setidaknya memberikan dia menu yang berbeda, maafkan saya wahai Tuan." 

Sayyidina Hasan bin Ali terharu mendengarnya, beliau meneteskan air matanya :

"Makanlah makananmu, dan bawalah makanan untuknya."

"Tidak wahai Tuan, Anda telah demikian baik, biarlah makan jatahku kuberikan padanya, hatiku membisikkan demikian, ijinkanlah wahai Tuan," kata orang tua itu bersikukuh. 

Sayyidina Hasan bin Ali makin terharu, air matanya makin menetes deras.

"Bapak tua, tahukah engkau siapa lelaki yang hendak kau berikan makanan tersebut ?. Dialah ayahku, Sayyidina Ali bin Abi Thalib, Sang Singa Gurun Pasir, Menantu Rasulullah SAW, Pedang ALLAH, Kekasih ALLAH dan kekasihnya Rasulullah SAW.

Sesungguhnya makanan yang kita makan ini adalah hasil kerjanya, dan dia memilih berbuka dengan apa yang kau sebutkan tadi." 

Kajian Ramadhan : Qadha Puasa



QADHA PUASA YANG TERTUNDA

Ada beberapa perbedaan pendapat yang berkembang seputar tanggungan puasanya seseorang yang belum diqadha hingga datangnya bulan ramadhan berikutnya,

Versi Imam Hanafi

Mengqadha sesuai berapa hari puasa yang ditinggalkan (baik menunda qadha'nya karena udzur/tidak). Berdasarkan dhahirnya Firman Allah : “Maka barang siapa di antara kamu ada yang sakit atau dalam perjalanan (lalu ia berbuka), maka (wajiblah baginya berpuasa) sebanyak hari yang ditinggalkan itu pada hari-hari yang lain” (QS. Albaqaarah Ayat 184).

Versi Imam Syafi’I, Maliki dan Imam Hambali

Mengqadha sesuai berapa hari puasa yang ditinggalkan ditambah membayar Fidyah bila menunda qadhanya karena tanpa adanya udzur berdasarkan sabda Rasulullah saw : "Barangsiapa yang memutuskan puasa dibulan ramadhan dan tidak mengqadha'nya sampai datang bulan ramadhan berikutnya maka dia wajib berpuasa untuk hari itu, kemudian baru puasa qadha dan memberi makanan setiap hari terhadap orang miskin (HR Baehaqi). Namun pijakan Imam syafi'i dalam wajibnya mengqadha ditambah fidyah dalam masalah ini bukan berpijak pada hadits dhaif ini melainkan berdasarkan ijma ulama.

Versi Ibnu Abbas, Ibnu Umar dan Sa'id bin Zubair

Tanggungan qadha puasanya berubah menjadi membayar fidyah bukan qadha puasa lagi berdasarkan Hadits Nabi : "Apabila tanggungan qadha puasa masih tetap (belum dipenuhi) hingga datangnya bulan puasa berikutnya maka dia wajib membayar kafarat (HR Baehaqi). [ Dinukil dari Kitab Madzahib Al-Arba'ah 1/902-905 ].

CARA MENGQADHA PUASA YANG TELAH LUPA

Wajib mengqadhai puasanya di selain hari-hari yang ia yakini telah dikerjakan puasanya, terhitung sejak ia mulai baligh. Niat melakukan qadha puasa ramadhannya dengan tanpa ditentukan waktunya (hari / tahunnya)

وعبارة الزواجر الحادي عشر أي من شروط التوبة التدارك فيما إذا كانت المعصية بترك عبادة ففي ترك نحو الصلاة والصوم تتوقف صحة توبته على قضائها لوجوبها عليه فورا وفسقه بتركه كما مر فإن لم يعرف مقدار ما عليه من الصلوات مثلا  قال الغزالي تحرى وقضى ما تحقق أنه تركه من حين بلوغه

Redaksi dalam kitab az-Zawaajir : Yang no. 11 (dari syarat-syaratnya taubat) adalah menyusul dan membenarkan kesalahan/maksiat yang telah ia perbuat akibat meninggalkan ibadah dimasa silam, dalam meninggalkan semacam shalat dan puasa misalnya, untuk dapat mengabsahkan taubatnya harus diqadha terlebih dahulu karena mengqadhanya diwajibkan sesegera mungkin dan dihukumi fasik bila ditinggalkan seperti keterangan yang telah lewat.

Bila tidak diketahui jumlah yang wajib ia qadha seperti dalam kasus shalat (juga puasa) menurut al-Ghazali wajib baginya meneliti dan mengqadha yang telah nyata ia tinggalkan mulai masa balighnya. [ I’aanah at-Thoolibiin IV/294, Is’aad ar-Rofiiq Hal. 143 ].

ولو علم أنه صام بعض الليالي وبعض الأيام ولم يعلم مقدار الأيام التي صامها فظاهر أنه يأخذ باليقين فما تيقنه من صوم الأيام أجزأه وقضى ما زاد عليه سم*

[ Hawaasyi as-Syarwaani III]

Kajian Ramadhan : Rakaat Tarawih



Jumlah Rakaat Shalat Tarawih Menurut Empat Madzhab

A. Madzhab Hanafi

As-Sarakhsi (w. 483 H) salah seorang ulama dari kalangan madzhab Hanafi menyebutkan di dalam kitabnya Al-Mabsuth sebagai berikut:

فَإِنَّهَا عِشْرُونَ رَكْعَةً سِوَى الْوِتْرِ عِنْدِنَا

“Dan shalat tarawih itu 20 rakaat di luar witir menurut pendapat kami. " (Lihat: As-Sarakhsi, Al-Mabsuth, jilid 2 hal. 144)

Al-Kasani (w. 587 H) yang juga merupakan salah seorang ulama madzhab Hanafi menuliskan di dalam kitabnya, Badai’ Ash-Shana’i’ fi Tartib Asy-Syarai' sebagai berikut:

وَأَمَّا قَدْرُهَا فَعِشْرُونَ رَكْعَةً فِي عَشْرِ تَسْلِيمَاتٍ فِي خَمْسِ تَرْوِيحَاتٍ كُلُّ تَسْلِيمَتَيْنِ تَرْوِيحَةٌ وَهَذَا قَوْلُ عَامَّةِ الْعُلَمَاءِ

“Adapun jumlahnya 20 rakaat dengan 10 salam dan 5 kali istirahat. Tiap dua kali salam ada istirahat. Demikian pendapat kebanyakan ulama.”(Lihat: Al-Kasani, Badai’us-shana’i’ fi Tartib Asy-Syarai', jilid 1 hal. 288)

Ibnu Abdin (w. 1252 H) yang juga merupakan salah satu ulama madzhab Hanafi mengatakan di dalam kitabnya, Raddul Muhtar 'ala Ad-Dur al-Mukhtar, bahwa shalat tarawih 20 rakaat adalah amalan yang dikerjakan oleh seluruh umat baik di Barat maupun di Timur.

قَوْلُهُ وَهِيَ عِشْرُونَ رَكْعَةً هُوَ قَوْلُ الْجُمْهُورِ وَعَلَيْهِ عَمَلُ النَّاسِ شَرْقًا وَغَرْبًا

“Dan tarawih itu 20 rakaat adalah pendapat jumhur dan itulah yang diamalkan orang-orang baik di Timur ataupun di Barat.” (Lihat: Ibnu Abdin, Raddul Muhtar 'ala Ad-Dur al-Mukhtar jilid 1 hal. 474)

B. Madzhab Maliki

Madzhab Maliki pada umumnya menyebutkan bahwa jumlah rakaat shalat tarawih adalah 20 rakaat. Selain itu juga ada pendapat yang menyebutkan 36 rakaat.

Ad-Dardir (w. 1201 H) yang merupakan salah seorang ulama di dalam madzhab Maliki dalam kitabnya, Asy-Syarhu ash-Shaghir, menuliskan sebagai berikut:

والتراويح برمضان وهي عشرون ركعة بعد صلاة العشاء يسلم من كل ركعتين

“Dan shalat tarawih di Ramadhan 20 rakaat setelah shalat Isya', dengan salam tiap dua rakaat." (Lihat: Ad-Dardir, Asy-Syarhu Ash-Shaghir, jilid 1 hal. 404)

An-Nafarawi (w. 1126 H) yang juga ulama madzhab Maliki menuliskan dalam kitabnya, Al-Fawakih Ad-Dawani ala Risalati Ibni Abi Zaid al-Qairuwani sebagai berikut:

وكان السلف الصالح) وهم الصحابة رضى الله عنهم (يقومون فيه) في زمن خلافة عمر بن الخطاب رضى الله عنه وبأمره كما تقدم (في المساجد بعشرين ركع ) وهو اختيار أبي حنيفة والشافعي وأحمد، والعمل عليه الآن في سائر الأمصار

“Para salafus-shalih yaitu para shahabat radhiyallahu’anhum menjalankan pada masa Khilafah Umar bin Khattab radhiyallahu’anhu atas perintahnya di dalam masjid sebanyak 20 rakaat. Dan itulah pilihan Abu Hanifah, Asy-Syafi'i dan Ahmad, serta yang dijalankan sekarang di seluruh dunia.” (An-Nafarawi, Al-Fawakih Ad-Dawani ala Risalati Ibni Abi Zaid Al-Qairuwani)

C. Madzhab Syafi'i

Semua ulama madzhab Syafi’i  sepakat menyebutkan bahwa shalat tarawih itu 20 rakaat.

Al-Mawardi (w. 450 H) salah seorang ulama terdahulu dari madzhab Syafi’i menuliskan di dalam kitabnya, Al-Hawi al-Kabir fi Fiqhi mazhabi al-Imam Asy-Syafi'i sebagai berikut:

فالذي أختار عشرون ركعةً خمس ترويحات كل ترويحة شفعين كل شفع ركعتين بسلام ثمّ يوتر بثلاث؛ لأنّ عمر بن الخطّاب رضي اللّه عنه جمع النّاس على أبيّ بن كعب فكان يصلّي بهم عشرين ركعةً جرى به العمل وعليه النّاس بمكّة

“Yang saya pilih 20 rakaat dengan 5 kali istirahat. Setiap sekali istirahat diselingi 2 kali shalat, tiap satu shalat terdiri dari 2 rakaat dengan satu salam. Kemudian witir tiga rakaat. Karena Umar bin Khattab radhiyallahu’anhu mengumpulkan orang bermakmum kepada Ubay bin Ka'ab, dan Ubay mengimami dengan 20 rakaat. Dan itulah yang selalu dilakukan dan yang dilaksanakan orang-orang di Mekkah.” (Lihat: Al-Mawardi, Al-Hawi al-Kabir fi Fiqhi mazhabi Al-Imam Asy-Syafi'i, jilid 2 hal. 291)

An-Nawawi (w. 676 H) salah satu muhaqqiqdalam madzhab Syafi’i menuliskan di dalam kitabnya, Al-Majmu' Syarah al-Muhadzdzab,sebagai berikut:

فصلاة التراويح سنة بإجماع العلماء ومذهبنا أنها عشرون ركعة فصلاة التراويح سنة بإجماع العلماء ومذهبنا أنها عشرون ركعة بعشر تسليماتٍ

“Shalat tarawih hukumnya sunnah dengan ijma' ulama. Dan menurut madzhab kami jumlahnya 20 rakaat dengan 10 kali salam.” (Lihat: An-Nawawi, Al-Majmu' Syarah Al-Muhadzdzab, jilid 4 hal. 31)

Zakaria Al-Anshari (w. 926 H) salah seorang ulama besar dalam madzhab Syafi’i menuliskan di dalam kitabnya, Asna al-Mathalib fi Syarhi Raudhati Ath-Thalib sebagai berikut:

وهي عشرُون ركعة بعشر تسليمات في كلّ ليلة من رمضان

“Dan (tarawih) itu 20 rakaat dengan 10 salam dilakukan tiap malam bulan Ramadhan.” (Zakaria Al-Anshari, Asna Al-Mathalib fi Syarhi Raudhati Ath-Thalib, jilid 1 hal. 200)

D. Madzhab Hanbali

Al-Khiraqi (w. 334 H) menuliskan dalam kitab Matan al-Khiraqi 'ala Mazhabi Abi Abdillah Ahmad bin Hanbal asy-Syaibani atau yang lebih dikenal dengan nama Mukhtashar Al-Khiraqi sebagai berikut:

وقيام شهر رمضان عشرون ركعة والله أعلم

“Dan qiyamu Ramadhan 20 rakaat, wallahua'lam.”  (Lihat: Al-Khiraqi, Matan Al-Khiraqi 'ala Mazhabi Abi Abdillah Ahmad bin Hanbal Asy-Syaibani, jilid 1 hal 29)

Ibnu Qudamah (w. 620 H) menuliskan dalam kitabnya Al-Mughni sebagai berikut:

وقِيامُ شهْرِ رمضان عِشْرُون ركْعة يعْنِي صلاة التراوِيح وهي سنّة مُؤكدة وأولُ منْ سنّها رسُولُ اللهِ

“Dan qiyam bulan Ramadhan 20 rakaat, yaitu shalat tarawih. Hukumnya sunnah muakkadah dan orang yang pertama kali melakukannya adalah Rasulullah SAW.” (Lihat: Ibnu Qudamah, Al-Mughni, jilid 2 hal. 122)

Al-Buhuti (w. 1051 H) sebagai salah seorang dari ulama madzhab Hanbali menuliskan dalam kitabnya, Ar-Raudh Al-Murabba' Syarah Zad Al-Mustaqni', sebagai berikut:

والتراويح) سنة مؤكدة سميت بذلك لأنهم يصلون أربع ركعات ويتروحون ساعة أي: يستريحون (عشرون ركعة) لما روى أبو بكر عبد العزيز في الشافي عن ابن عباس: «أن النبي - صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ - كان يصلي في شهر رمضان عشرين ركعة» (تفعل) ركعتين ركعتين (في جماعة مع الوتر) بالمسجد أول الليل (بعد العشاء

“Dan tarawih hukumnya sunnah muakkadah, dinamakan tarawih karena mereka beristirahat sejenak tiap 4 rakaat. Jumlah 20 rakaat sebagaimana riwayat Abu Bakar Abdul Aziz di dalam Asy-Syafi dari Ibni Abbas bahwa Nabi SAW shalat di bulan Ramadhan 20 rakaat. Dikerjakan dua rakaat dua rakaat dengan berjamaah ditambah witir di masjid pada awal malam setelah shalat Isya'.” (Lihat: Al-Buhuti, Ar-Raudh Al-Murabba' Syarah Zad Al-Mustaqni', jilid 1 hal. 115)

E. Tarawih di Masjidil Haram dan Masjid Nabawi

Menyimak pendapat madzhab Hanbali yang juga menetapkan 20 rakaat untuk tarawih, maka wajar kalau kita mendapati baik di Masjid al-Haram di Mekkah ataupun Masjid an-Nabawi di Madinah al-Munawwarah sampai kini masih menerapkan shalat tarawih dengan 20 rakaat, sebagaimana disaksikan dan dikerjakan oleh semua jamaah umrah Ramadhan secara langsung.


Kamis, 24 Mei 2018

Kajian Ramadhan : KELAPARAN DAN KEHAUSAN BELAKA



Kita tidak cukup dengan berbangga dengan puasa kita. Keistimewaan ibadah puasa akan kita dapatkan dengan syarat yang berat pula. 

Nabi Muhammad SAW mewanti-wanti kepada ummatnya agar tidak mandeg berpuasa dengan ala kadarnya; yakni cukup meninggalkan makan dan minum belaka.

"Banyak orang yang berpuasa hanya mendapatkan rasa lapar dan haus belaka" begitu Nabi mengingatkan kita lewat haditsnya.

Kenapa puasa kita hanya mendapat balasan kelaparan dan kehausan? Karena kita masih melakukan hal-hal yang menghilangkan pahala puasa. Pahala hilang, yang tersisa hanya rasa lapar dan dahaga.

Karena ini, Hilang Pahala Puasa 

1- Berdusta
2- Ghibah/Menggunjing/Ngrasani
3- Adu domba antar sesama
4- Sumpah palsu/ Janji palsu
5- Melihat dengan pandangan syahwat

Sungguh berat bukan? Memang berat!
Beratnya syarat yang meliputi amal puasa ini sebanding dengan keistimewaan yang dimiliki. 

[ Salah Kaprah ]

"Mending gak usah puasa, daripada puasa tapi menerjang lima perkara tadi!" Ucapan yang salah kaprah.

Kewajiban puasa tetap atas diri kita. Kita tetap diwajibkan berpuasa. Adapun urusan hilangnya pahala puasa adalah konsekuensi yang harus kita terima, lantaran kita hanya berpuasa menahan rasa lapar dan dahaga. 

Seluruh anggota badan kita harus turut berpuasa. Puasa lahir bathin. Puasa dari berdusta, adu domba antar sesama, ngrasani teman dan tetangga, menebar sumpah palsu, serta puasa dari melihat segala sesuatu dengan pandangan syahwat.

Semoga Allah memberikan pertolongan-Nya untuk kita semua. Amiin..

Dikembangkan dari  sari mau'idzoh KH. M. Roghib Mabrur [ Pengasuh Pondok MIS] usai shalat tarawih berjama'ah di Masjid Jami' Pondok MIS Sarang - Rembang. (amas/ramadan 39)

Rabu, 23 Mei 2018

Kajian Ramadhan : Takut dan Harap



Sifat  Takut dan Harap

عن انس بن مالك رضي الله عنه قال :
أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ دَخَلَ عَلَى شَابٍّ وَهُوَ فِي الْمَوْتِ فَقَالَ كَيْفَ تَجِدُكَ قَالَ وَاللَّهِ يَا رَسُولَ اللَّهِ أَنِّي أَرْجُو اللَّهَ وَإِنِّي أَخَافُ ذُنُوبِي فَقَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ لَا يَجْتَمِعَانِ فِي قَلْبِ عَبْدٍ فِي مِثْلِ هَذَا الْمَوْطِنِ إِلَّا أَعْطَاهُ اللَّهُ مَا يَرْجُو وَآمَنَهُ مِمَّا يَخَافُ

Dari Anas bin Malik radhiyallahu anhu berkata :

Nabi Shallallahu’alaihi wa Sallam datang kepada seorang pemuda yang hendak meninggal, maka beliau berkata:

“Bagaimana keadaanmu?” Pemuda itu menjawab: “Demi Allah ya Rasulullah, sungguh saya sangat berharap kepada (Rahmat) Allah dan saya sangat takut akan (siksa Allah) atas dosa-dosa saya. ”Maka Rasulullah Shallallahu’alaihi wa Sallam berkata: “Tidaklah dua perkara tersebut ada pada hati seorang hamba yang dalam kadaan seperti ini, kecuali Allah akan memberikan apa yang diharapkannya dan akan Allah amankan ia dari apa yang ditakutkannya.”

Dikeluarkan oleh Imam Tirmidzi dan sanadnya hasan. Juga Imam Ibnu Majah dan Imam Abdullah bin Imam Ahmad dalam Zawa’id Az-Zuhd (halaman 34-35), juga Imam Ibnu Abid Dunya sebagaimana dalam At-Targhib (4/141) dan lihat juga dalam Al-Misykah-nya (1612).

Pelajaran yang terdapat di dalam hadist :

  1. Imam Ibnu Hajar al-‘Asqalani rahimahullah berkata, “Yang dimaksud dengan ar-raja’ (berharap) adalah bahwa jika seorang hamba melakukan kesalahan (dosa atau kurang dalam melaksanakan perintah Allah) maka hendaknya dia bersangka baik kepada-Nya dan berharap agar Dia menghapuskan (mengampuni) dosanya, demikian pula ketika dia melakukan ketaatan (kepada-Nya) dia berharap agar Allah menerimanya.
  2. Adapun orang yang bergelimang dalam kemaksiatan kemudian dia berharap Allah tidak menyiksanya (pada hari kiamat) tanpa ada rasa penyesalan (takut ) dan (kesadaran untuk) meninggalkan perbuatan maksiat (tanpa melakukan taubat yang benar kepada Allah), maka ini adalah orang yang tertipu (oleh setan)”
  3. Maka roja' dan khauf harus selalu ada pada  seseorang maka akan sampai  cinta, ridho dan  surga Allah, Insya Allah.


Tema hadist yang berkaitan dengan Al - Qur'an :

  1. Dua sifat inilah yang dimiliki oleh hamba-hamba Allah yang paling mulia di sisi-Nya yaitu khouf dan roja', para Nabi dan Rasul Shallallahu ‘alaihi wa sallam, sehingga Allah Ta’ala memuji mereka dalam firman-Nya,


إِنَّهُمْ كَانُوا يُسَارِعُونَ فِي الْخَيْرَاتِ وَيَدْعُونَنَا رَغَبًا وَرَهَبًا وَكَانُوا لَنَا خَاشِعِينَ

“Sesungguhnya mereka adalah orang-orang yang selalu bersegera dalam (mengerjakan) perbuatan-perbuatan yang baik dan mereka (selalu) berdoa kepada Kami dengan (perasaan) harap dan takut. Dan mereka adalah orang-orang yang khusyu‘” (QS al-Anbiyaa’:90).

2- Karena itulah Al-Hasan Al-Basri rahimahullah pernah mengatakan bahwa orang mukmin mengerjakan amal-amal ketaatan, sedangkan hatinya dalam keadaan takut, bergetar, dan khawatir; sementara orang yang durhaka mengerjakan perbuatan-perbuatan maksiat dengan penuh rasa aman. Maka orang yang  merasa  aman dari  siksa Allah  termasuk  orang yang  rugi.

أَفَأَمِنُوا مَكْرَ اللَّهِ ۚ فَلَا يَأْمَنُ مَكْرَ اللَّهِ إِلَّا الْقَوْمُ الْخَاسِرُونَ

Patutkah mereka (bersukaria) sehingga mereka merasa aman akan rancangan buruk (balasan azab) yang diatur oleh Allah? Karena sebenarnya tidak ada yang merasa aman dari rancangan buruk (balasan azab) yang diatur oleh Allah itu melainkan orang-orang yang rugi.
[Surat Al-A'raf 99]

3- Orang yang  terlalu berat  khouf (takut) tanpa ada roja' maka bisa putus asa. Dan putus asa  sifat orang  kafir

وَلَا تَيْأَسُوا مِنْ رَوْحِ اللَّهِ ۖ إِنَّهُ لَا يَيْأَسُ مِنْ رَوْحِ اللَّهِ إِلَّا الْقَوْمُ الْكَافِرُونَ

Dan janganlah kamu berputus asa dari rahmat serta pertolongan Allah. Sesungguhnya tidak berputus asa dari rahmat dan pertolongan Allah itu melainkan kaum yang kafir".
[Surat Yusuf 87]

Kajian Ramadhan : Saat Haid memegang Al -Qur'an



Memegang/membawa Al-Quran yang ada tafsirnya bagi wanita haid haram hukumnya, Kecuali bila jumlah kalimat tafsirnya lebih banyak ketimbang huruf Al-Qur'annya.

Sedang memegang/membawa al-Quran yang ada terjemahnya muthlak haram, kecuali saat ia menghawatirkan tersia-siakannya Al-Quran

أما ترجمة المصحف المكتوبة تحت سطوره فلا تعطي حكم التفسير بل تبقى للمصحف حرمة مسه وحمله كما أفتى به السيد أحمد دحلان حتى قال بعضهم إن كتابة ترجمة المصحف حرام مطلقا سواء كانت تحته أم لا فحينئذ ينبغي أن يكتب بعد المصحف تفسيره بالعربية ثم يكتب ترجمة ذلك التفسير

Terjemah Al-quran yang ditulis di bawahnya tidak bisa disamakan dengan hukum tafsir Quran (dimana kalau Qurannya lebih banyak ketimbang tafsirnya tidak boleh dipegang orang yang menanggung hadats), hukum yang berlaku untuk terjemah Al-Quran sama dengan Al-Quran dalam arti tidak boleh dibawa/dipegang oleh orang hadats seperti yang difatwakan oleh Sayyid Ahmad Dahlan, bahkan sebagian ulama menyatakan menterjemah Al-Quran dibawahnya atau dimana saja hukumnya haram secara mutlak, karena sebaiknya setelah alquran baru ditulis terjemahannya kemudian baru diterjemahkan tafsirnya (Nihaayah Azzain I/33).

والله اعلم

Senin, 21 Mei 2018

Kajian Ramadhan : Pembuka Rizqi



JALBU RIZQI ALA MBAH FAQIH IMAM SARANG

Seperti biasa, setiap akhir kelulusan di Madrasah Ghozaliyah Syafi'iyyah (MGS Sarang) ada agenda pembacaan sanad dan ijazah. Nah, Gus Ghofur (sekarang menjadi putra menantu Mbah Faqih) dan temannya bertugas untuk sowan kepada Al-Maghfurlah Mbah Faqih (KH. Faqih bin Imam). Setelah melalui perundingan antar teman, Gus Ghofur memberanikan diri matur kepada Mbah Faqih untuk meminta ijazah agar dipermudahkan urusan rizki (Jalbu Rizqi). 

Apa jawaban Mbah Faqih? 

"Ora usah jalbu rizqinan cung! Sing penting awakmu sregep jama'ah mengko ora bakal kangelan golek rizqi, malah rizqimu sek goleki awakmu. Eling-eling yo..!!" Jawab Mbah Faqih dengan tegas. 

Tidak usah repot wiridan jalbu rizqi, Nak. Yang penting kamu rajin sholat jama'ah. Nanti kamu tidak akan sulit dalam mencari rizqi, malah rizqi yang akan mencarimu.

Gus Ghofur dan temanya pun hanya bisa diam. Sam'an wa tho'atan. Padahal yang di bayangkan Gus Ghofur, Mbah Faqih akan mengijazahkan beberapa wirid dan amalan guna mempermudah urusan rizqi. 

Sangat perlu untuk diketahui, salah satu kesukaan, bahkan menjadi amalan wajib bagi Mbah Faqih adalah selalu melaksanakan sholat dengan berjama'ah. Hal ini berkat didikan dari Abah beliau Mbah Imam (KH. Imam Kholil bin Syu'aib). 

Dimanapun dan kapanpun, Mbah Faqih senantiasa menjaga sholat berjama'ah. Jika kebetulan sedang dalam perjalanan atau ada udzur, maka Mbah Faqih akan mencari kang santri/ orang lain untuk menemani sholat berjama'ah. Sungguh tauladan yang baik!

Sudahkah kita mengamalkannya?

Berikut pemaparan Sayyid 'Abbas bin Alawi Al-Maliki tentang pentingnya menjaga shalat berjama'ah.

Ganjaran bagi yang menjaga Shalat berjama'ah :

  1. Dilapangkan urusan ma'isyahnya (mudah rizqinya).
  2. Terhindar dari siksa kubur
  3. Kelak menerima kitab catatan amal dengan tangan kanan.
  4. Melewati Shirat secepat kilat
  5. Masuk surga dengan tanpa hisab.

KH. Faqih Imam lahir di Karangmangu-Sarang-Rembang pada tahun 1950. Wafat pada tahun 2004. 

Khusus Al-Maghfurlah KH. Faqih Imam. Al-Fatihah.

Dicatat dari penuturan KH. Abdul Ghofur (Putra Menantu KH. Faqih Imam) saat pembacaan sanad dan ijazah Mutakhorrijin Pondok MIS  1439/2018.