Selasa, 23 Oktober 2018

*EDISI ORANG-ORANG SHALEH*

*KYAI KHOLIL BANGKALAN KEDATANGAN SEORANG PENGEMIS DAN ANJINGNYA*

 

Suatu hari Almaghfullah Syaichona Kyai Kholil (Bangkalan - Madura) sedang menemui tamu tamunya di ruangan depan. Mbah Kholil yang juga  Ulama besar dan salah satu guru dari KH Hasyim Asy'ari (pendiri NU / kakek Gus Dur) duduk dengan salah satu lutut tertekuk di depan perut beliau sambil bercengkerama dengan para tamu tamunya di temani secangkir kopi yang ada di hadapan masing2.

Ketika sedang asyik mengobrol itu tiba2 datang seorang "gembel" dengan pakaian lusuh sambil menuntun seekor anjing masuk ke ruangan,kontan saja semua tamu pada heran bercampur geram apalagi tanpa salam tanpa bicara dan tanpa ijin tiba2 si pengemis ini menyeruput kopi milik mBah Kholil, terlihat juga ingus yang keluar dari hidung pengemis tak di undang ini.

Marah kah mbah Kholil??
Tidak! Mbah Kholil tampak merubah posisi duduknya seperti orang posisi duduk orang sedang sholat,telapak  tangannya menyatu di atas paha, kepalanya menunduk tanpa berani menatap muka si pengemis.

Justru beberapa tamu bangkit bermaksud mengusir orang aneh ini, tapi segera di cegah oleh mBah cholil dengan isyarat tangannya.

Beberapa saat suasana hening, mBah cholil tetap menunduk, tamu yang ada di ruangan itu tak satupun ada yang berani bersuara sampai kemudian si pengemis berlalu tanpa sepatah katapun.

Selepas gelandangan itu pergi mBah Kholil membuka suara : "siapa yang mau meminum kopi bekas tamuku tadi"?

Tentu saja tak seorangpun yang mau, karena kopi itu bekas di minum seorang pengemis dengan ingus menempel di bawah idung! Ngeri!

"Baiklah, kalau begitu biar saya yang menghabiskan".kata mBah kholil sambil meminum sisa kopi di cangkir.

Semua tamu semakin  terheran heran, belum habis rasa penasaran para tamu kemudian mBah Kholil menyambung kata lagi : " taukah sampyan semua siapa tamu tadi,, dia Nabi Khidir, beliau habis mengunjungi sahabatnya seorang wali di Yaman dan Sudan, kemudian melanjutkan perjalanan kesini untuk menemui sahabat2nya,para Waliyullah di tanah jawa."

Kontan kemudian para tamu berebut sisa kopi yang tinggal cangkirnya itu, bahkan ada yang berebut untuk mencuci cangkirnya sekedar untuk "ngalab berkah" dari kesalehan Nabi Khidir Alaihissalam.

MBaH Kholil terkekeh dengan tingkah para tamunya ini, yah.. kebanyakan kita hanya melihat kulit, tanpa bisa melihat hati, karena mata kita sudah tertutup oleh gemerlap dunia.

*JANGAN TERTIPU OLEH PANDANGAN MATA DOHIR (LAHIRIYAH)*

Semoga kita semua selalu terjaga... 🙏

Kisah Inspiratif : SANTRI & KIYAI...




Kunjungan sang Mahaguru, Mbah Kholil Bangkalan ke Tebuireng Jombang mengejutkan mbah Hasyim Asyari. Dalam tradisi pesantren tidak ada istilah "mantan santri" atau "mantan kiyai" sampai akhir hayat santri ya tetep santri, kiyai yo tetep kiyai.

Mbah Kholil Bangkalan adalah guru bagi kiyai Hasyim. Untuk itulah segala hal dipersiapkan untuk menyambut tamu istimewa ini. Masalahnya, mbah Kholil tidak hanya berkunjung, melainkan ingin nyantri, belajar pada kiyai Hasyim, yang memang sudah dikenal reputasinya sebagi ahli hadits. (bedo yo karo jaman now...po yo ono kyai meguru ning santrine..gengsiii..broo..).

Begitu mbah Kholil rawuh di Tebuireng, beberapa santri ditugaskan mempersiapkan kamar khusus buat mbah Kholil, setelah rampung, maka dengan takdhimnya kiyai Hasyim mendekat dan matur :
"Kiyai..mohon istirahat di kamar yang telah disediakan, jangan tidur seperti santri-santri biasa, cucian juga biar dicucikan, jangan mencuci sendiri" kata kiyai Hasyim.

Dengan tersenyum mbah Kholil membalas:
"Hasyim, disini saya datang sebagai santri, seperti santri-santri yang lain, jadi jangan diistimewakan dan dipisahkan dengan santri-santri yang lain. Dulu, di pesantren Bangkalan, memang benar aku kiyaimu, dan kamu santriku, tapi disini sebaliknya, kamu kiyaiku dan aku ini santrimu"

"Tapi kiyai..." kata kiyai Hasyim kebingungan.
Karena bagaimanapun mbah Kholil adalah gurunya, kiyainya (tak peduli saat ini sudah jadi ustadz, kyai besar, profesor, doktor, pejabat...kyai ya tetap kiyai, guru ya tetap guru, senajan guru ning TK, kiyai mulang alif, ba, ta..inilah adab santri dan murid... tak malu cium tangan jika ketemu, meskipun dia lebih berharta dan berpangkat).

Setelah berfikir keras, kiyai Hasyim punya ide, maka didatangi mbah Kholil di kamarnya.

"Kiyai Kholil", kata kiyai Hasyim agak di wibawa-wibawakan.

"Apa benar kiyai, menganggap saya sebagai guru..?" lanjut kiyai Hasyim

Mbah Kholil agak bingung dan terkejut mendengar pertanyaan mantan santrinya.

"Iya benar, kamu adalah guru saya", balas mbah Kholil

"Kalo begitu saya perintahkan agar kiyai Kholil meninggalkan kamar ini, segera menempati kamar yang sudah disediakan, makanan akan diantar ke kamar, jadi tidak perlu antri seperti santri yang lain, cucian juga akan dicucikan, jadi tidak perlu antri kamar mandi. Ini bukanlah permintaan seorang santri kepada kiyainya, tapi perintah kiyai pada santrinya"

Mendengar itu, mbah Kholil terkejut lalu berdiri dan menuruti perintah "gurunya"

Indahnya adab santri, adab murid pada gurunya, pada kiyainya...jangan malu mencium tangannya, dimanapun berada.

🌟🌟🌟🌟🌟🌟🌟🌟🌟

SELAMAT HARI SANTRI, semoga kaberkahan guru dan kiyai tetap kita dapatkan, selamat aktivitas, sehat dan sukses selalu, Aamiin

Minggu, 21 Oktober 2018

Rajin Sholat Tapi Sholatnya Tidak Pernah Dicatat Malaikat, Ini Penyebabnya




Rasulullah SAW pernah menyampaikan kekhawatiran tentang sesuatu yang di kemudian hari bisa menjangkiti umatnya. Beliau bersabda,

“Sesungguhnya ada sesuatu yang aku takutkan di antara sesuatu yang paling aku takutkan menimpa umatku kelak, yaitu syirik kecil.

Para sahabat bertanya, “Apakah syirik kecil itu?”

Beliau menjawab, “riya’.”

Dalam sebuah hadis diceritakan pula bahwa di akhirat kelak akan ada sekelompok orang yang mengeluh, merangkak, dan menangis.

Mereka berkata, “Ya Allah di dunia kami rajin melakukan shalat, tapi kami dicatat sebagai orang yang tidak mau melakukan shalat.”

Para malaikat menjawab, “Tidakkah kalian ingat pada waktu kalian melakukan shalat kalian bukan mengharap ridha Allah, tapi kalian mengharap pujian dari manusia, kalau itu yang kalian cari, maka carilah manusia yang kau harapkan pujiannya itu.”

Jelaslah bahwa kualitas sebuah amal berbanding lurus dengan kualitas niat yang melatarbelakanginya. Bila niat kita lurus, lurus pula amal kita. Namun, bila niat kita bengkok, amal kita pun akan bengkok.

Agar niat kita senantiasa lurus dan ikhlas, alangkah baiknya apabila kita menghayati kembali janji-janji yang selalu kita ucapkan saat shalat, “Sesungguhnya shalatku, ibadahku, hidup, dan matiku hanyalah untuk Allah seru sekalian alam.”
.

Kebaikan bagi Orang yang Berdoa



DOA merupakan salah satu senjata orang-orang mukmin. Karena dengan doalah kita bisa merubah takdir buruk menjadi takdir baik. Doa pula menjadi salah satu cara kita berdialog dan mengeluarkan segala isi hati di hadapan Allah SWT.

Kita seringkali merasa bosan dalam berdoa. Bosan dalam berdoa ini disebabkan kita merasa bahwa doa-doa kita tidaklah dikabulkan.

Padahal, kita seharusnya jangan pernah merasa bosan dalam berdoa. Karena, doa yang kita panjatkan kepada Allah akan selalu membawa kebaikan. Apa saja kebaikan itu? Setidaknya ada lima hal yang akan diterima oleh orang yang berdoa, yaitu:

  1. Allah segera mengabulkan doa orang tersebut, sehingga ia mendapatkan apa yang ia minta.
  2. Allah mengganti permintaan orang itu dan memberinya keselamatan dari bencana.
  3. Allah menjawab permintaan orang itu dengan ganti yang jauh lebih baik.
  4. Allah menunda pengabulan doa orang itu hingga waktu yang lebih tepat.
  5. Allah menunda pengabulan doa orang itu sampai ajal menjemputnya. Doanya menjadi simpanan di akhirat.
Jadi, masihkan kita bosan dalam berdoa? Renungkanlah…

HIDUP TAWAKKAL


Kehidupan di dunia ini tanpa adanya TAWAKAL kepada Allah ta`ala niscaya akan bimbang dan ada keraguan di hatinya

وَمَنْ يَتَوَكَّلْ عَلَى اللَّهِ فَهُوَ حَسْبُهُ

“Dan barangsiapa yang bertawakal kepada Allah, niscaya Dia akan mencukupi (kebutuhan)nya” (QS. Ath-Thalaq: 3)

عن عُمَرَ بْنَ الْخَطَّابِ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ يَقُولُ إِنَّهُ سَمِعَ نَبِيَّ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَقُولُ ((لَوْ أَنَّكُمْ تَتَوَكَّلُونَ عَلَى اللَّهِ حَقَّ تَوَكُّلِهِ لَرَزَقَكُمْ كَمَا يَرْزُقُ الطَّيْرَ تَغْدُو خِمَاصًا وَتَرُوحُ بِطَانًا)). رواه الترمذي، وَقالَ: (حديث حسن).

Dari Sayyidina ‘Umar bin Khathab RA bahwa beliau pernah mendengar Nabi bersabda: “Seandainya kalian bertawakkal kepada Allah dengan sebenar-benarnya tawakkal, niscaya Dia (Allah) akan memberi kalian rizki sebagaimana Allah memberi rizki kepada burung, ia (burung) keluar di waktu pagi dalam keadaan perut kosong dan pulang di waktu sore dalam keadaan kenyang.”

Semoga kita dianugrahi Tawakkal sehingga hidup ini bahagia..Aamiin YMS..




Almarhum Gus Cecep pernah menunjukkan kepada saya buku catatan milik sang ayah, KH. Abdul Karim Hasyim (1901-1972) putra Hadlratussyaikh KH. M. Hasyim Asy’ari (1871-1947).

Buku berukuran saku tanpa nomor halaman itu memuat banyak informasi. Ada catatan tentang keilmuan, syair, nasab, agenda, draft surat, dan doa ilmu hikmah. Bahasa Arab menempati posisi paling banyak dalam buku catatan tersebut, disusul bahasa Jawa dan Indonesia.

Yang menarik untuk diulas, ada catatan Kiai Karim tentang doa hikmah yang ditulisnya dengan aksara Pegon, berbahasa Jawa, dan dibubuhi kutipan ayat-ayat Alquran. Begini salinannya, saya pribadi kurang yakin penyalinan ini benar, mohon dikoreksi:

“Bismillahirrahmanirrahim
SangHyang Handaru putih aran ratune bumi ingsun nitip tanduran ingsun, barang ingsun, awak ingsun, lamun ngapek barangku cupanana patenana, kullu nafsin dzaiqatul maut, hawwin ‘alayna ya dzal jalal wal ikram. Syekh Bujang, Syekh Lara Ala kang anduweni kasakit biru. Sapa2 sing ngapek barangku iku panganan sira, geteh, daging sing ala atine maring aku. Malaikat Abu Janiyah panerapaken kembang siluang, incuk2, incek matana sing arep ala maring aku.

Alam tara ilalladzina kharaju min diyarihim fahum ulufun hadzaral maut.

Santri kang ngereksa tegal; macan putih, sapa amburu macan putih ula putih, sapa amburu ula putih celeng putih, sapa amburu celeng putih wong pangereksa tegal. Pak Irsyad dipa, Pak Salman Pak Sakram.”

Tampaknya mantra atau jimat ini digunakan beliau untuk mejaga sawah pesantren. Di akhir tulisan juga tertulis santri-santri yang menjaganya. Pertanyaannya kemudian, Siapa dan apa maksud ‘SangHyang Handaru Putih’ di doa tersebut?

Wallahu a’lam. Kalimat itu cukup asing, minimal dalam pembendaharaan bahasa Jawa saya. Lebih mirip kosakata Jawa Hindu. Tapi memang diakui, nuansa Hindu-Buddha sebagai agama pra-Islam di Jawa memiliki pengaruh yang besar. Asimilasi dan akulturasi budaya pasti terjadi saat keduanya bersentuhan.

P. J. Zoetmulder dalam “Pantheisme en monisme in de Javaansche Soeloek-Littertuur” (1990) menuturkan, Sastra Suluk yang merepresentasikan kepercayaan Islam di Jawa, lebih banyak menampilkan kepercayaan Jawa dan pengaruh pra-Islam daripada ajaran Islam itu sendiri.

Asumsi saya, SangHyang Handaru Putih tak lain ya Tuhan Sang Pencipta itu, hanya saja dengan sebutan nama lain. Seperti dalam Islam dikenal Asmaul Husna sebagai 99 nama indah Allah, pun demikian masyarakat Jawa memiliki banyak sebutan untuk Tuhan Yang Maha Esa dengan bahasanya.

Well, Islam hadir di muka bumi bukan untuk memberangus budaya, tradisi, dan bahasa yang sudah ada namun hanya meluruskan dan memperindah saja—peran inilah yang kemudian dianjutkan oleh pesantren.

Tradisi sedekah laut, misalnya, ada yang mengklaim syirik tidak sesuai syariat harus dihapus. Hallah, gitu aja geger. Tinggal niatnya saja yang diubah. Jika semula sedekah untuk para penunggu laut, maka orang-orang pesantren berniat sedekah kepada makhluk yang ada di laut; ikan-cumi-dkk, sebagai rasa syukur kepada Allah.

Ibarat orang yang sudah memiliki istri namun terlihat kusut, bukan istrinya yang diganti, tapi kekusutannya itulah yang harus didandani. Duh, kok melebar. Selamat malam Minggu deh…

Alfaqir: atunk.
Jakarta, 20 Oktober 2018

https://m.facebook.com/story.php?story_fbid=10212907893393439&id=1273371223

Sabtu, 20 Oktober 2018

Al-Fatihah vs Al-Fateka, Perlukah Dipertentangkan?


Oleh: Muchlis M Hanafi

Al-Qur`an bukan kalam biasa. Ia adalah kalam Tuhan yang harus dimuliakan. Dalam rangka memuliakan Al-Qur`an, para ulama menekankan agar dalam melantunkan bacaan, unsur _fashâhah_ dan _makhraj_ diperhatikan. Untuk itu, ilmu tajwid, yaitu ilmu untuk memperbagus bacaan Al-Qur`an diciptakan. Ratusan, bahkan ribuan kitab tajwid ditulis.

Bahkan, sedemikian pentingnya ilmu tajwid, ulama Al-Qur`an, Ibnu al-Jazari (w.833 H), menyatakan, _’berpedoman dengan ilmu tajwid adalah keharusan. Siapa yang membaca Al-Qur`an tidak dengan tajwid yang benar maka ia berdosa’._ Ini sejalan dengan perintah Al-Qur`an agar membacanya dengan _tartîl_ (QS. Al-Muzzammil/73: 4), yakni membacanya secara perlahan, sehingga huruf-hurufnya keluar dengan jelas sesuai bunyi pelafalannya.

Siapa yang bisa seperti itu terbilang sebagai _al-mâhir bil qur`an_ yang dalam hadis dikatakan ‘akan bersama para malaikat yang mulia’. Bagaimana dengan yang tidak membaca atau melafalkannya dengan baik? Lanjutan hadis menyatakan, “yang membacanya dengan terbata-bata, penuh kesulitan, akan mendapatkan dua pahala; dari bacaan dan usahanya.

Setiap orang punya kondisi berbeda. Jangankan non-Arab yang bukan penutur bahasa Arab, bangsa Arab sendiri punya dialek dan logat bermacam-macam. Bukan hanya saat ini, tetapi saat Al-Qur`an diturunkan, bahkan di hadapan Rasulullah.

Dalam sejarah bahasa Arab klasik, menurut Teimour Pasya (w.1930 M), ditemukan tidak kurang dari dua puluh dialek. Bahkan pernyataan Nabi Saw Al-Qur`an turun dalam _sab`at ahruf_ salah satunya untuk mengakomodir dialek suku-suku bangsa Arab saat Al-Qur`an diturunkan. Di antara suku Arab yang terbesar dan paling berpengaruh adalah Quraisy, Tamim, Asad, Hudzail, Aqil, Thay dan lainnya.

Perbedaan dialek itu bahkan sampai pada tingkat merubah bunyi huruf. Perbedaan itu salah satunya dipengaruhi lingkungan. Dalam sosio-linguistik, suku Tamim, misalnya, simbol kehidupan masyarakat badui pedalaman, sedangkan masyarakat Arab perkotaan ( _hadhariy_ ) diwakili oleh suku Qurasiy dan yang ada di Hijaz.

Dalam melafalkan huruf, suku quraisy dikenal jelas dan cermat. Berbeda dengan Hudzail yang suka berbicara cepat, sehingga bunyi huruf satu dengan lainnya saling bertumpuk. Ini bisa ditelusuri dalam bacaan versi Abu Amr Ibn al-Ala (w.154 H), salah satu dari tujuh bacaan ( _qira`at sab`ah_ ) yang mutawatir. Di kalangan suku Tamim, Asad dan Qays dikenal fenomena bunyi yang disebut _’an`anah_ , yaitu membunyikan huruf hamzah berharakat fathah dengan `ain. Huruf hamzah (أَ) berubah menjadi `ain (ع). Di kalangan suku Hudzail, huruf ha (ح) dibunyikan dengan `ain (ع). Pengaruh dialek Hudzail diakomodir oleh Ibnu Mas`ud, salah seorang Sahabat Nabi, yang membaca ayat _hattâ hîn_ (QS. Yusuf: 12/35) dengan _ ‘attâ ‘în_. Fenomena ini disebut _fahfahah’_. Ada lagi fenomena _al-watm_ yang mengganti bunyi huruf ‘sîn’ dengan ‘ta’. Kata _al-nâs_ dibunyikan menjadi _al-nât_.

Rasulullah dalam beberapa kesempatan mengakomodir perbedaan dialek tersebut. Dalam suatu riwayat, beliau melafalkan huruf `ain berharakat ‘sukun’ (عْ) yang berdampingan dengan huruf ‘tha’ menjadi ‘nûn’. Dalam doa popular, _”Limâ a`thayta”_ menjadi _”limâ anthayta”_” dan _”walâ mu`thiya”_ menjadi _”walâ munthiya”_”. Ulama besar, al-Hasan al-Bashri (w.21 H), diriwayatkan membaca QS. al-Kautsar dengan lafal _”innâ anthaynâkal kawtsar”_. Fenomena ini disebut _al-istintha_ pada kabilah Sa`ad, Hudzail, Azd dan Qays. Dalam kesempatan lain, ‘alif-lam’ (الْ) pada awal kata dibunyikan dengan `am (ام). Ungkapan _”laysa minal birri al-shiyâm fi al-safar”_ (bukan hal yang baik berpuasa di perjalanan) berbunyi menjadi _”laysa min ambirr am shiyâm fi amsafar”_. Fenomena ini disebut _thamthamah_ atau _thamthamaniyah_ pada suku Thay, Azd dan Himyar di selatan jazirah Arab.

Demikian beberapa contoh dialek Arab yang dipengaruhi faktor sosial dan lingkungan. Simplifikasi bunyi ini bisa juga terjadi karena tempat keluar huruf (makhraj) berdekatan, seperti huruf _ha_ dari tengah kerongkongan ( _wasath al-halq_) dan _kaf_ dari ujung lidah bagian dalam setelah kerongkongan sedikit. Meski berbeda bunyi, ahli bahasa bersepakat itu hanya kebiasaan yang tidak memengaruhi makna. Apalagi bukan karena disengaja. Bukankah Tuhan tidak membebani hamba-Nya dengan sesuatu yang di luar kemampuannya? Kalau begitu, mengapa harus dipertentangkan. Demikian, _wallahua`lam_.

*Penulis adalah Direktur  Pusat Studi Al-Qur`an (PSQ) Jakarta dan Kepala Lajnah Pentashihan Mushaf Al-Qur`an (LPMQ) Kementerian Agama RI-( KH. DR MUCHLIS M HANAFI, MA) Beliau adalah alumni GO. 1989 - Komsol*