Sabtu, 09 Juni 2018

Kisah Inspiratif : Imam Malik dan Imam Syafi'i

Satu masalah, Beda pendapat.......
Murid dan guru sama tersenyum

Lantas mengapa kita menyalahkan pada yang lain pendapat ?


Suatu ketika Imam Malik menyampaikan dalam majlis: “Sesungguhnya rezeki itu datang tanpa sebab, cukup dengan tawakkal yang benar kepada Allah niscaya Allah akan berikan Rezeki. Lakukan yang menjadi bagianmu, selanjutnya biarkan Allah yang mengurus lainnya.”

Terhadap hal yang demikian, Imam Syafi’i, sang murid punya pendapat lain. Seandainya seekor burung tidak keluar dari sangkarnya, bagaimana mungkin ia akan mendapatkan rezeki.

(Ilustrasi Burung dalam sarang)

Masing-masing bertahan pada pendapatnya. Hingga pada suatu hari saat tengah meninggalkan pondok, Imam Syafi’i melihat serombongan orang tengah memanen anggur, dan iapun lalu membantunya. Tatkala pekerjaan itu selesai, Imam Syafi’i mendapatkan imbalan beberapa ikat anggur sebagai balasan jasa kebaikannya.

Imam Syafi’i girang sekali. Bukan semata karena mendapatkan anggur, tetapi pemberian itu telah menguatkan pendapatnya. Jika burung tak terbang sangkar, bagaimana ia akan mendapat rezeki. Jika seandainya ia tak membantu memanen, niscaya ia tak akan mendapatkan anggur.

(Ilustrasi Buah Anggur)

Bergegas ia segera menjumpai gurunya. Lalu sambil menaruh seluruh anggur yang didapatnya, ia pun menceritakan kisah yang terjadi. Imam Syafi’i sedikit mengeraskan pada bagian kalimat “seandainya saya tidak keluar pondok dan melakukan sesuatu (membantu memanen), tentu saja anggur itu tidak akan pernah sampai di tangan saya.”

Mendengar itu Imam Malik tersenyum seraya mengambil anggur dan mencicipinya. Imam Malik berkata: “Sehari ini aku memang tidak keluar pondok. Hanya mengambil tugas sebagai guru, dan sedikit berpikir alangkah nikmatnya kalau dalam hari yang panas ini aku bisa menikmati anggur. Lalu tiba-tiba engkau datang sambil membawakan beberapa ikat anggur untukku.

Bukankah ini juga bagian dari rezeki yang datang tanpa sebab. Cukup dengan tawakkal yang benar kepada Allah niscaya Allah akan berikan Rezeki. Lakukan yang menjadi bagianmu, selanjutnya biarkan Allah yang mengurus lainnya.”

Kedua orang guru murid itu kemudian tertawa. Dua Imam madzab yang mengambil dua hukum yang berbeda dari hadits yang sama.

Berbeda bukan berarti berpisah jalan
Berbeda bisa berarti saling mendukung...

Selamat menjalankan puasa

Keutamaan Sholat Isyroq



Dari Anas bin Malik radhiyallahu ‘anhu dia berkata, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
« مَنْ صَلَّى الْغَدَاةَ فِى جَمَاعَةٍ ثُمَّ قَعَدَ يَذْكُرُ اللَّهَ حَتَّى تَطْلُعَ الشَّمْسُ ثُمَّ صَلَّى رَكْعَتَيْنِ كَانَتْ لَهُ كَأَجْرِ حَجَّةٍ وَعُمْرَةٍ تَامَّةٍ تَامَّةٍ تَامَّةٍ »
Barangsiapa yang shalat subuh berjamaah, kemudian dia duduk – dalam riwayat lain: dia menetap di mesjid[1] – untuk berzikir kepada Allah sampai matahari terbit, kemudian dia shalat dua rakaat, maka dia akan mendapatkan (pahala) seperti pahala haji dan umrah, sempurna sempurna sempurna[2].
Hadits yang agung ini menunjukkan besarnya keutamaan duduk menetap di tempat shalat, setelah shalat shubuh berjamaah, untuk berzikir kepada Allah sampai matahari terbit, kemudian melakukan shalat dua rakaat[3].
Faidah-faidah penting yang terkandung dalam hadits ini:
  • Shalat dua rakaat ini diistilahkan oleh para ulama[4] dengan shalat isyroq (terbitnya matahari), yang waktunya di awal waktu shalat dhuha[5].
  • Sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, “… sampai matahari terbit“, artinya: sampai matahari terbit dan agak naik setinggi satu tombak[6], yaitu sekitar 12-15 menit setelah matahari terbit[7], karena Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam melarang shalat ketika matahari terbit, terbenam dan ketika lurus di tengah-tengah langit[8].
  • Keutamaan dalam hadits ini lebih dikuatkan dengan perbuatan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam sendiri, dari Jabir bin Samurah radhiyallahu anhu: bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam jika selesai melakukan shalat shubuh, beliau duduk (berzikir) di tempat beliau shalat sampai matahari terbit dan meninggi”[9].
  • Keutamaan dalam hadits ini adalah bagi orang yang berzikir kepada Allah di mesjid tempat dia shalat sampai matahari terbit, dan tidak berbicara atau melakukan hal-hal yang tidak termasuk zikir, kecuali kalau wudhunya batal, maka dia boleh keluar mesjid untuk berwudhu dan segera kembali ke mesjid[10].
  • Maksud “berzikir kepada Allah” dalam hadits ini adalah umum, termasuk membaca al-Qur’an, membaca zikir di waktu pagi, maupun zikir-zikir lain yang disyariatkan.
  • Pengulangan kata “sempurna” dalam hadits ini adalah sebagai penguat dan penegas, dan bukan berarti mendapat tiga kali pahala haji dan umrah[11].
  • Makna “mendapatkan (pahala) seperti pahala haji dan umrah” adalah hanya dalam pahala dan balasan, dan bukan berarti orang yang telah melakukannya tidak wajib lagi untuk melaksanakan ibadah haji dan umrah jika dia mampu.
Kode Referensi :

[1] HR ath-Thabrani dalam “al-Mu’jamul kabir” (no. 7741), dinyatakan baik isnadnya oleh al-Mundziri.
[2] HR at-Tirmidzi (no. 586), dinyatakan hasan oleh at-Tirmidzi dan syaikh al-Albani dalam “Silsilatul ahaditsish shahihah” (no. 3403).
[3] Lihat kitab “Tuhfatul ahwadzi” (3/157) dan “at-Targhib wat tarhib” (1/111-shahih at-targhib).
[4] Bahkan penamaan ini dari sahabat Ibnu Abbas, lihat kitab “Bughyatul mutathawwi'” (hal. 79).
[5] Lihat kitab “Tuhfatul ahwadzi” (3/157) dan “Bughyatul mutathawwi'” (hal. 79).
[6] Lihat kitab “Tuhfatul ahwadzi” (3/158).
[7] Lihat keterangan syaikh Muhammad bin Shaleh al-Utsaimin dalam “asy-Syarhul mumti'” (2/61).
[8] Dalam HSR Muslim (no. 831).
[9] HSR Muslim (no.670) dan at-Tirmidzi (no.585).
[10] Demikian keterangan yang kami pernah dengar dari salah seorang syaikh di kota Madinah.

[11] Lihat kitab “Tuhfatul ahwadzi” (3/158).


Manfaat Melaksanakan Sholat Isyroq :

  • Dalam hadits yang telah disebutkan terdapat dorongan untuk melaksanakan shalat jama’ah shubuh di masjid/Musholla
  • Dianjurkan memanfaatkan waktu pagi untuk ibadah dan bukan diisi dengan malas-malasan seperti kebiasaan sebagian muslim yang malah mengisi waktu selepas shubuh dengan tidur pagi. 
  • Dianjurkan berdiam setelah shalat shubuh untuk berdzikir hingga matahari terbit sebagaimana hal ini dicontohkan oleh Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam
  • An-Nawawi dalam Shohih Muslim membawakan bab dengan judul ‘Keutamaan tidak beranjak dari tempat shalat setelah shalat shubuh dan keutamaan masjid’. Dalam bab tersebut terdapat suatu riwayat dari seorang tabi’in –Simak bin Harb-. Beliau rahimahullah mengatakan bahwa dia bertanya kepada Jabir bin Samuroh,

أَكُنْتَ تُجَالِسُ رَسُولَ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم-
Apakah engkau sering menemani Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam duduk?

Jabir menjawab,
نَعَمْ كَثِيرًا كَانَ لاَ يَقُومُ مِنْ مُصَلاَّهُ الَّذِى يُصَلِّى فِيهِ الصُّبْحَ أَوِ الْغَدَاةَ حَتَّى تَطْلُعَ الشَّمْسُ فَإِذَا طَلَعَتِ الشَّمْسُ قَامَ وَكَانُوا يَتَحَدَّثُونَ فَيَأْخُذُونَ فِى أَمْرِ الْجَاهِلِيَّةِ فَيَضْحَكُونَ وَيَتَبَسَّمُ.
Iya. Beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam biasanya tidak beranjak dari tempat duduknya setelah shalat shubuh hingga terbit matahari. Apabila matahari terbit, beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam berdiri (meninggalkan tempat shalat). Dulu para sahabat biasa berbincang-bincang (guyon) mengenai perkara jahiliyah, lalu mereka tertawa. Sedangkan beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam hanya tersenyum saja.”

  • Dianjurkan berdzikir setelah shalat shubuh, bisa dengan membaca Al Qur’an atau membaca dzikir pagi.
  • Keutamaan mengerjakan shalat isyroq dua raka’at adalah mendapatkan pahala haji dan umroh. Akan tetapi shalat ini tidak bisa menggantikan ibadah haji dan umroh, namun hanya sama dalam pahala dan balasan saja.

Dikutip dari berbagai sumber

Rabu, 06 Juni 2018

Kisah Inspiratif : Ibunda Imam Syafi'i



Beda ibu-ibu sekarang dengan ibunya para ulama. Kebanyakan ibu mengharapkan, khususnya saat seperti lebaran ini, anaknya mudik dengan sukses, pakai mobil, punya rumah dan kekayaan lainnya. Malu pada tetangga jika anaknya mudik "pas-pasan"
dan si anakpun malu juga jika pulang tidak kelihatan "suksesnya." Akhirnya banyak anak mobilnya hasil leasing, rumahnya KPR, belanja pakai kartu kredit. Riba pun belum bisa hilang dari kehidupan.
_______________

IBUNDA IMAM SYAFI'I YANG TIDAK BANGGA DENGAN KEKAYAAN ANAKNYA

"Nak, pergilah menuntut ilmu untuk jihad di jalan Allah swt, kelak kita bertemu di akhirat saja". Perintah Ibunda Imam Syafi'i kepada Imam Syafi'i sebelum rihlah (perjalanan menuntut ilmu). Kemudian, Imam Syafi'i berangkat dari Makkah ke Madinah belajar dgn Imam Malik, kemudian ke Iraq.



Di Iraq, Imam Syafi'i BUKAN HANYA 1 atau 2 tahun, ia tidak berani pulang ke rumah karena teringat pesan ibunnya ("kelak kita bertemu di akhirat saja...") sehingga sebelum ada Izin dari Ibunya ia tidak berani pulang ke rumah. Di Iraq beliau menjadi orang besar, ulama' dan alim.

Suatu ketika ada halaqa besar di Masjidil Haram. Ada seorang Ulama besar dari Iraq dalam perkataannya sering menyebut "Muhammad Bin Idris Asy-syafi'i berkata begini begini ...".

Kemudian Ibunya Imam Syafi'i bertanya "Ya Sayikh, Siapakah Muhammad bin Idris Asy-syafi'i itu?" Syaikh itu menjawab dengan bangganya, "Dia adalah guruku, seorang yang 'alim, cerdas, sholeh yang berada di Iraq. Asalnya dari Mekkah sini... ".

Kemudian Ibu Imam Syafi'i berkata "Ketahuilah Syaikh, Muhammad Bin Idris Asy-syafii itu adalah Anakku". Syaikh itu-pun kaget dan tercengang. "Subhaanallaah, wahai ibu, Benarkah hal itu?" "Ya, benar. Dia adalah ANAKKU..." Jawab ibu Imam Syafi'i.

Rombongan dari Iraq itupun seketika menunduk, sebagai tanda hormat kepada Ibu Imam Syafi'i. Kemudian Syaikh tersebut berkata "Wahai ibu, sepulang dari haji ini kita akan kembali ke Iraq. Apa pesanmu kepada Imam Syafi'i?".

Kemudian Ibunda Imam Syafi'i berkata: "Pesanku kepada Syafi'i, kalau dia sekarang ingin pulang, aku mengizininya untuk pulang."

Sepulang dari haji, Syaikh beserta rombongan Iraq itupun menyampaikan pesan tersebut kepada Imam Syafi'i bahwa "Ibundanya, mengizinkan beliau untuk pulang ke rumah....", mendengar hal tersebut, mata beliaupun terharu dan merasa bahagia.

Ini artinya Imam Syafi'i masih berkesempatan bertemu dengan sang Ibunda di dunia ini, walaupun sebelumnya ibunya berkata "kita bertemu di akhirat saja." Imam Syafi'i tidak mengulur-ngulur waktu, beliaupun berkemas kemas ingin segera mungkin bertemu sang Ibunda di Makkah.

Sebelumnya berpamitan kepada warga Iraq setempat. Karena ke'aliman dan kemasyhuran beliau di Iraq, masyarakat yang mencintai dan mengagumi beliau, merasa bersimpati kepada Imam Syafi'i dengan memberi apa yang mereka punya dari kekayaan mereka, ada yang memberi unta, dinar, dll sekedar untuk bekal. Walhasil, Imam Syafi'i pun pulang dengan membawa puluhan unta dan di kawal oleh beberapa santri beliau.

Sesampai di perbatasan kota Mekkah, Imam Syafi'i mengutus seorang santrinya agar mengabarkan kepada Ibundanya bahwa saat ini beliau sudah di perbatasan kota Mekkah. (Hal seperti ini termasuk sunnah, yakni mengabarkan ke rumah ketika seseorang mau pulang supaya pihak rumah mempersiapkan sesuatu, bukan membuat malah kejutan).

Kemudian, santri Imam Syafi'i pun mengetuk pintu rumah.
"Siapa itu?" Tanya Ibunda Imam Syafi'i.
"Saya adalah santri Imam syafi'i yang diutus beliau agar mengabarkan kepada ibu, bahwa Imam Syafi'i sekarang sudah berada di perbatasan kota Mekkah," jawab santri Imam Syafi'i.

Lalu Ibunda Imam Syafi'i berkata:
"Syafi'i Membawa apa? ..."
Dengan bangga santri Imam Syafi'i menjawab "Beliau pulang dengan membawa puluhan unta dan harta lainya...".

Mendengar penuturan santri Imam Syafi'i yang polos itu, Ibunya menutup pintunya sambil berkata, "Aku menyuruh Syafi'i ke Iraq bukan untuk mencari dunia....!!!. Beritahu kepada Syafi'i bahwa dia tidak boleh pulang ke rumah....!! ".

Menuruti perintah ibunda Imam Syafi'i, santri itu pun gemetar dan menyampaikan kepada Imam Syafi'i. "Wahai Imam, Ibunda anda marah dan menyuruh anda untuk tidak boleh pulang ke rumah." Imam Syafi'i berkata "Mengapa bisa demikian?".

Santrinya pun menjawab, "Wahai Imam, Sesungguhnya ibunda anda bertanya, Syafi'i membawa apa? Kemudian aku berkata bahwa Imam Syafi'i membawa puluhan unta dan kekayaan lainnya....".

"Sungguh kesalahan besar dirimu, jika engkau menganggap Ibundaku akan bahagia dengan harta yang ku bawa ini. Baiklah, sekarang kumpulkan orang Mekkah dan bagikan semua unta dan kekayaan lainya pada penduduk Mekkah, dan sisakan kitab-ku, setelah itu khabarkan lagi kepada Ibuku.... " Ujar Imam Syafi'i kepada santrinya.

Santri Imam Syafi'i itupun menurut apa yang diperintahkan oleh gurunya, lantas ia kembali ke rumah Imam Syafi'i untuk menemui ibunda beliau.

Sesampai di depan rumah ia mengetuk pintu, dan terdengarlah dari dalam rumah: "Siapa?".
"Saya adalah Murid Imam Syafi'i yang kemarin dan ingin mengabarkan kepada anda, bahwa Imam Syafi'i telah membagikan semua untanya dan harta yang lainnya, yang beliau bawa hanya KITAB dan ILMU," jawab santri Imam Syafi'i.

"Alhamdulillah, Baiklah sekarang kabarkan kepada Syafi'i bahwa dia boleh pulang ke rumah dan dia aku tunggu ...". Mendengar kabar itu Imam Syafi'i bahagia dan terharu, seraya mencium ibundanya yang telah lama tidak bertemu.

(Ilustrasi hormat dan patuh kepada orang tua)


Mudah mudahan menjadi inspirasi buat kita semua. Semoga bermanfaat.

Senin, 04 Juni 2018

Kultum Teraweh : Menyongsong Lailatul Qodar




Ustadz H. Maskan (Kedungbaruk-Surabaya)
20 Ramadhan 1439 H
Senin, 04 Juni 2018
Musholla As-Suyudi

Puji Syukur Alhamdulillah atas Rahmad dan Hidayah-Nya sehingga dapat Istiqomah dalam melaksanakan ibadah.

Sholawat dan salam kepada junjungan Nabi Muhammad SAW yang memberikan petunjuk dalam menjalani kehidupan sehari-hari

Memasuki 1/3 Ramadhan terakhir sebagai pembebas dari api neraka.

Seandainya sebuah pertandingan, fase penyisihan hingga grand final peserta menyusut tapi menjadi peserta pilihan yang terbaik, begitu pula pada fase ini banyak kegiatan malam diisi berbelanja di Mall ketimbang tetap beribadah/ teraweh di tempat ibadah

Menjelang memasuki Ramadhan, Rasulullah berdoa dengan empat doa :
  1. Allahumma salimni Ramadhan
  2. Wassalim romadhona lii
  3. Wassalimhu minni mutaqobbalan
  4. Serta segala ritual ibadah senantiasa diterima oleh Allah SWT
Pada masa kemerdekaan, UUD 45 sudah disusun berdasarkan Ridlo Allah SWT dan Alqur'an serta Hadits

Dengan menyitir dari dasar Al-Qur'an :
Surat Al-A'raf ayat 96 :
"Jikalau sekiranya penduduk negeri-negeri beriman dan bertakwa, pastilah Kami akan melimpahkan kepada mereka berkah dari langit dan bumi, tetapi mereka mendustakan (ayat-ayat Kami) itu, maka Kami siksa mereka disebabkan perbuatannya."

Makna dari ayat tersebut, yang terpenting penduduknya beriman kepada Allah SWT, negara/ casing-nya tidak harus berbentuk Islam, karena di Timur Tengah banyak negara yang berbentuk Islam tetapi perang tetap berkecamuk.


Surat Hud 118 :
"Jikalau Tuhanmu menghendaki, tentu Dia menjadikan manusia umat yang satu, tetapi mereka senantiasa berselisih pendapat, kecuali orang-orang yang diberi Rahmat oleh Tuhanmu"

Jadi bentuk NKRI sudah final sesuai para pendiri bangsa, mengedepankan kepentingan bangsa dan negara daripada golongan, sehingga bila ada faham yang lain apalagi dengan menebar teror maka sama halnya bertentangan dengan negara.

Tentang Lailatul Qodar

Ibnu Abbas meriwayatkan, bahwa Malaikat Jibril menceritakan kepada Rasulullah tentang orang yahudi ahli ibadah bernama Sam'un Al-Ghazi yang bersenjata tulang rahang onta, bila dipukulkan maka musuh bisa jatuh berguguran

Dari pedang yang ada giginya, bila Sam'un haus maka akan keluar air dan bila lapar  akan keluar dagingnya

(ilustrasi pedang Sam'un)


Untuk bisa mengalahkannya, maka orang kafir akhirnya menyuruh isterinya untuk mengikatnya dengan tali pada malam harinya, namun mudah diputuskannya

Di hari kedua, isterinya mengikatnya dengan rantai, namun juga mudah diputuskan oleh Sam'un

Akhirnya Sam'un mengutarakan kelemahannya, bahwa rambutnya yang panjang dipotong dan dijadikan tali pengikat, sehingga tubuhnya menjadi lemah lalu dimutilasi oleh orang kafir menjadi beberapa bagian

Namun Allah Merahmati, sehingga tubuhnya bisa utuh kembali dan meruntuhkan gedung yang menyebabkan orang kafir tewas semuanya.

(Ilustrasi Sam'un merobohkan gedung)


Sam'un lalu beribadah kembali kepada Allah hingga 1000 tahun lamanya.

Untuk menyamai amalan tersebut, ummat Nabi Muhammad dapat sholat dua rokaat di saat malam lailatul qodar

Namun Lailatul Qodar sebaiknya tidak hanya dicari pada malam-malam tertentu, tapi pada keseluruhan malam di bulan Ramadhan.

Sabtu, 02 Juni 2018

Menghidupkan Malam Ganjil Ramadhan


Ahad dini hari, 3 Juni 2018
Takmir Musholla As-Suyudi I'tikaf
Di Masjid Namira, Lamongan

Pada 10 malam terakhir, Rasulullah SAW. yang kemudian diikuti oleh para sahabat lebih menggiatkan lagi ibadahnya. Aisyah ra. mengatakan:

« كَانَ رسولُ اللهِ – صلى الله عليه وسلم – يَجْتَهِدُ في رَمَضَانَ مَا لاَ يَجْتَهِدُ في غَيْرِهِ ، وَفِي العَشْرِ الأوَاخِرِ مِنْهُ مَا لا يَجْتَهِدُ في غَيْرِهِ ».

Rasulullah saw. sangat giat beribadah di bulan ramadhan melebihi ibadahnya di bulan yang lain, dan pada sepuluh malam terakhirnya beliau lebih giat lagi melebihi hari lainnya. (HR. Muslim)

Keajaiban-keajaiban yang terdapat pada 10 malam terakhir bulan ramadhan telah banyak disebutkan di dalam al-Qur’an maupun Sunnah. Diantaranya,

Pertama; terjadinya lailatul qadr yang merupakan malam di turunkannya al-Qur’an dan dicatatnya di lauhul mahfudz seluruh perkara yang akan terjadi di muka bumi pada tahun tersebut. Rasulullah saw. mewanti-wanti agar umatnya memperhatikan lailatul qadr pada 10 malam terakhir. Beliau bersabda:

 « تَحَرَّوْا لَيْلَةَ القَدْرِ في الوَتْرِ مِنَ العَشْرِ الأوَاخِرِ مِنْ رَمَضَانَ ».
Carilah lailatul qadr pada tanggal ganjil di sepuluh malam terakhir bulan ramadhan. (HR. Bukhori)

Keduaorang yang beribadah shalat pada malam lailatul qadr maka dosanya yang telah lalu akan diampuni. 

Dan barangsiapa yang berdiri (shalat sunat) pada malam lailatul qadr dengan penuh keimanan dan mengharap ridha Allah maka Allah mengampuni dosa-dosanya yang telah lalu.” (HR. Ibnu Abi Dunya dalam Fadhail Ramadhan)

Ketiga; segala kebaikan akan dilipatgandakan pahalanya. Apalagi jika bertepatan dengan lailatul qadr maka satu amalan kebaikan pahalanya lebih baik dari amalan kebaikan yang dilakukan selama seribu bulan atau sekitar 83 tahun. Allah swt. berfirman:

“malam kemuliaan (lailatul qadr) itu lebih baik dari seribu bulan.” (QS. Al Qadr: 3)

Sayyid Thanthawi dalam Al-Wasith menjelaskan, lailatul qadr lebih utama dari seribu bulan karena pada saat itu diturunkan al-Qur’an yang memberi petunjuk ke jalan yang lurus dan mengeluarkan manusia dari kegelapan menuju cahaya, dan karena ibadah pada malam itu lebih banyak pahalanya dan lebih besar  keutamaannya dari ibadah berbulan-bulan tanpa lailatul qadr.

KeempatAllah tidak mentaqdirkan selain keselamatan pada malam lailatul qadr itu. Dimana hal ini tidak terjadi pada malam-malam lainnya yang terdapat keselamatan dan bencana. Pada malam itu pula para malaikat menyampaikan ucapan selamat kepada orang-orang beriman sampai terbitnya fajar. 

Penjelasan tersebut disampaikan An-Nasafi dalam Madarikut Tanzil wa Haqaiqut Ta’wil dan Az Zamakhsyari dalam Al Kasysyaf, ketika keduanya menafsirkan ayat ke 5 dari surat al Qadr.

Dan masih banyak lagi keajaiban-keajaiban lainnya yang menegaskan keutamaan dan kelebihan bulan ramadhan khususnya pada 10 malam terakhir. Semua itu tentu akan semakin mengokohkan keimanan seorang mukmin dan lebih mendekatkan dirinya dengan Allah SWT


Menggapai Keajaiban
Berbagai kegiatan ibadah bisa dilakukan untuk mengisi ramadhan terutama pada sepuluh malam terakhir bulan suci itu. Rasulullah saw. dan para sahabat ra. telah mencontohkan aktifitas ibadah yang penting dilakukan pada saat malam-malam tersebut diantaranya adalah:
  1. I’tikaf. Yaitu diam di masjid dengan niat yang khusus dan disertai ibadah. Imam Nawawi dalam kitab An-Nihayah mengartikan i’tikaf sebagai menetapi sesuatu dan menempatinya. Maka orang yang menetap di masjid dengan melaksanakan ibadah di dalamnya disebut orang yang beri’tikaf. Rasulullah saw. biasa melakukan i’tikaf pada 10 hari terakhir ramadhan. Ibnu Umar ra. Berkata:
« كَانَ رسولُ اللهِ – صلى الله عليه وسلم – يَعْتَكِفُ   العَشْرَ الأوَاخِرَ مِنْ رَمَضَانَ »
Rasulullah saw. beri’tikaf pada sepuluh hari terakhir bulan ramadhan. (HR. Mutafaq ‘alaih)

  1. Memperbanyak bersedekah. Ibnu Abas ra. berkata:
كَانَ رَسُوْلُ اللهِ، صَلىَّ الله عليه وسلم، أَجْوَدَ النَّاسِ، وَكَانَ أَجْوَدُ مَا َيكوُنْ ُفِيْ رَمَضَانَ حِيْنَ يَلْقَاهُ جِبْرِيْلُ.
Rasulullah saw. adalah orang yang sangat dermawan kepada siapapun, dan pada bulan ramadhan beliau lebih dermawan lagi saat Jibril menemui beliau. (HR. Mutafaq ‘alaih)

  1. Memperbanyak membaca al-Qur’an. Karena pahala membacanya akan dilipatgandakan melebihi pahala pada bulan selain ramadhan. Selain itu bulan ramadhan adalah bulan dimana al-Qur’an diturunkan pertama kali. Oleh karenanya para ulama terdahulu lebih banyak mengkhatamkan al-Qur’an dibulan ramadhan. Imam Syafi’i biasa mengkhatamkannya sebanyak 60 kali pada bulan ramadhan lebih banyak dari bulan lainya yang hanya satu kali dalam sehari semalam. Malaikat Jibril senantiasa mendatangi Rasulullah saw. pada bulan ramadhan untuk membacakan al- Qur’an kepada beliau. Ibnu Abas berkata: Jibril menemui Rasulullah saw. pada setiap malam dibulan ramadhan kemudian ia membacakan Qur’an kepada beliau saw. (HR. Mutafaq ‘alaih)
  1. Melakukan ibadah umrah. Rasulullah saw. bersabda: “Umrahlah kamu pada bulan ramadhan, karena umrah pada bulan ramadhan sebanding dengan melaksanakan ibadah haji”(HR. An-Nasai)

  1. Memperbanyak berdo’a. Dari Aisyah ra. ia berkata kepada Rasulullah saw. Ya Rasulullah, bagaimana jika suatu malam aku mengetahui bahwa itu malam lailatul qadar, apa yang harus aku baca? Beliau bersabda, bacalah;
« اَللَّهُمَّ إنَّكَ عَفُوٌ تُحِبُّ العَفْوَ فَاعْفُ عَنّي »
Ya Allah, sesungguhnya Engkau maha pemaaf, Engkau menyukai permintaan maaf maka ampunilah aku. (HR. Tirmidzi)

  1. Memperbanyak shalat sunnah.
« مَنْ قَامَ لَيْلَةَ القَدْرِ إيمَاناً وَاحْتِسَاباً غُفِرَ لَهُ مَا تَقَدَّمَ مِنْ ذَنْبِهِ »
Barangsiapa yang bangun (untuk shalat) pada malam lailatul qadar dengan penuh keimanan dan keikhlasan maka diampuni dosa-dosanya yang telah lalu. (HR. Mutafaq ‘alaih)

Meraih Cinta Allah
Segala amal nafilah atau ibadah sunnah yang kita lakukan dengan penuh ketulusan akan mendekatkan kita dengan Allah SWT. Dalam sebuah hadis qudsi yang diriwayatkan Abu Hurairah, Allah swt. berfirman:

« وَمَا يَزَالُ عَبْدِي يَتَقرَّبُ إلَيَّ بالنَّوافِلِ حَتَّى أحِبَّهُ ، فَإذَا أَحبَبتُهُ كُنْتُ سَمعَهُ الَّذِي يَسْمَعُ بِهِ ، وَبَصَرَهُ الَّذِي يُبْصِرُ بِهِ ، ويَدَهُ الَّتي يَبْطِشُ بِهَا ، وَرِجْلَهُ الَّتِي يَمْشي بِهَا ، وَإنْ
سَأَلَني أعْطَيْتُهُ ، وَلَئِنِ اسْتَعَاذَنِي لأُعِيذَنَّهُ »

Dan tidak henti-hentinya hamba-Ku mendekatkan diri kepada-Ku dengan ibadah sunnah sampai Aku mencintainya. Jika Aku mencintainya maka Aku adalah pendengarannya yang ia mendengar dengannya, dan penglihatannya yang ia melihat dengannya, dan tangannya yang ia memegang dengannya, dan kakinya yang ia melangkah dengannya. Jika ia meminta kepada-Ku maka Aku akan memberinya dan jika meminta perlindungan kepada-Ku maka Aku akan memberi perlindungan kepadanya. (HR. Bukhori)

Jumat, 01 Juni 2018

Literasi NU

Perpustakaan Digital


HIBAH EBOOK BUKU AGAMA ISLAM GRATIS

DAFTAR BUKU

1. KH. Marzuki Mustamar, Al-Muqthatofat lil Ahlil Bidayat


3. Habib Munzir al-Musawa, Kenalilah Akidahmu













16.Syaikh Thahir bin Shalih al-Jaza'iri, Terjemah Jawahirul Kalamiyyah


18.Habib Ali bin Muhammad al-Habsy, Maulid Simthud Duror

19.Imam Ja'far Ibn Hasan al-Barzanji, Maulid Barzanji

20.Imam Abdurrahman al-dibaa'i, Maulid Ad-Dibaa'i

Semoga bermanfaat, menebar manfaat mendobrak keterbatasan literasi

Kamis, 31 Mei 2018

Kata Mutiara Nouman Ali Khan


Nouman Ali Khan adalah seorang ustadz dari Amerika Serikat dan CEO Bayyinah Institute. Beliau mendapat banyak perhatian komunitas muslim karena tema dakwah yang dibawakannya menggunakan sudut pandang linguistik Al-Quran

Selama berdakwah, terdapat banyak sekali kata-kata mutiara yang sangat menginspirasi dan menyejukkan hati yang telah beliau sampaikan. Berikut 10 di antara sekian banyak kata-kata mutiara yang pernah disampaikan beliau.

KATA MUTIARA 1

"Orang-orang yang menguji kesabaran Anda sesungguhnya adalah berkah. Tanpa mereka, Anda tidak akan bisa berlatih sabar."

KATA MUTIARA 2

"Ketika Anda sedang menghadapi sesuatu yang buruk dan mulai bertanya-tanya 'dimanakah Allah?'. Ingatlah bahwa saat sedang ujian, guru selalu diam."

KATA MUTIARA 3

"Bila Anda berada dalam posisi untuk membantu seseorang, berbahagialah! karena Allah sedang menjawab doa orang itu melalui Anda."

KATA MUTIARA 4

"Anda tahu apa yang Quran ajarkan kepada saya? Quran mengajarkan kepada saya bahwa orang yang sangat kaya bisa menjadi sebuah kegagalan (Firaun) dan seorang tunawisma bisa menjadi sukses (Nabi Ibrahim). Ini mengajarkan kepada saya bahwa kesuksesan tidak ada hubungannya dengan kekayaan dan kegagalan tidak ada hubungannya dengan kemiskinan."

KATA MUTIARA 5

"Bila Anda tidak sabar, Anda mulai mengeluh. Dan fakta bahwa Anda mengeluh adalah pertanda bahwa Anda tidak bersyukur."

KATA MUTIARA 6

"Anda tidak bisa mengubah tingkah laku seseorang, yang bisa Anda lakukan hanyalah mengingatkan mereka, dan berharap Allah akan mengubah hati mereka."

KATA MUTIARA 7

"Jangan memaksakan agama pada keluarga Anda. Tunjukkan pada mereka keindahan Agama melalui tingkah laku Anda."

KATA MUTIARA 8

"Saya bersyukur karena memeluk sebuah agama yang secara alami dapat menyesuaikan diri dengan perubahan zaman namun memiliki nilai dan prinsip abadi."

KATA MUTIARA 9

"Setiap kesuksesan yang Anda alami adalah kombinasi dari dua hal: usaha Anda dan pertolongan Allah. Bila Anda tidak melakukan usaha yang cukup, Allah tidak akan memberikan barakah-Nya. Dan terkadang Anda bisa melakukan banyak usaha tapi Anda mungkin tidak mendapat hasil yang Anda harapkan. Itu juga merupakan barakah Allah."

KATA MUTIARA 10

"Tidak ada yang salah dengan memiliki pekerjaan bagus, tidak ada salahnya memiliki rumah yang bagus, tidak ada yang salah dengan itu. Yang salah adalah ketika hal itu menjadi tujuan utama Anda."

Referensi: http://www.azquotes.com/author/28405-Nouman_Ali_Khan