Senin, 05 Maret 2018

GODAAN KEKUASAAN


Puncak kenikmatan dunia dipengaruhi oleh dua faktor, yaitu kekayan dan kekuasan. Keduanya, menurut Imam Al-Ghazali, merupakan puncak kenikmatan dan kemewahan dunia. Dengan memiliki keduanya, seseorang dapat dengan mudah mencapai tujuan dan segala hal yang dinginkannya. Tidak mengherankan bila keduanya memiliki daya tarik tinggi dan selalu diperebutkan. 

Dibanding harta dan kekayaan, masih menurut Al-Ghazali, pangkat dan kekuasan jauh lebih menggoda. Ini karena kekuasaan memiliki kelebihan-kelebihan yang tidak terdapat pada kekayaan, terutama menyangkut tiga hal. 

Pertama, kekuasan dapat menjadi alat (wasilah) untuk memperoleh dan menumpuk kekayaan. Jadi, orang yang memiliki kekuasaan pada hakikatnya telah memiliki kekayaan. Sebaliknya, orang yang memiliki kekayaan tidak dengan sendirinya dapat mencapai puncak kekuasan. 

Kedua, kekuasaan melahirkan pengaruh yang luas dan relatif lebih langgeng ketimbang pengaruh harta. Harta bisa dicuri, dirampas, dan dikorupsi, sedangkan kekuasaan dalam arti pengaruh dan loyalitas dari rakyat kepada pemimpin yang dikagumi, tidak mungkin dan tidak bisa dicuri atau ditukar. 

Ketiga, kekuasaan dapat menaikkan dan mendongkrak popularitas seseorang. Bahkan, bagi penguasa yang adil, setiap orang sesungguhnya telah menjadi 'corong' dan 'media' yang setiap saat mempublikasikan kebaikan-kebaikannya.

Bagi Al-Ghazali, pangkat dan kedudukan itu tidak hanya dalam arti formal, tetapi juga dalam arti nonformal. Hakikat pangkat atau kekuasaan itu, menurutnya, adalah qiyamuh Al-manzilah, fi qulub Al-nas (seseorang memperoleh kedudukan atau tempat yang tinggi dihati manusia), sehingga mereka tunduk dan patuh kepadanya dan selalu berada di bawah kuasa dan kendalinya. Pendeknya, kekuasaan itu pada akhirnya melahirkan pengaruh berupa kepatuhan, kesetiaan, dan loyalitas.

Meskipun begitu, kekuasaan bukanlah sesuatu yang buruk pada dirinya. Seperti halnya kekayaan, kekuasaan merupakan sesuatu yang baik asal diperoleh dengan cara yang baik dan dipergunakan secara baik pula. Ini berarti, kekuasaan tidak boleh dicari dengan jalan kebohongan, kecurangan, Atau melanggar aturan main. 

Agama tidak boleh pula dijadikan sebagai alat untuk mencapai kekuasaan. Perbuatan yang disebut terakhir ini dinilai Al-Ghazali sebagai tindakan kriminal atau pelecehan terhadap agama itu sendiri. 

Kekuasaan harus dicapai secara jujur dan adil dengan menunjukkan kemampuan tertentu yang secara objektif memang ada dan dimiliki oleh seorang calon pemimpin. 
Konon, Nabi Yusuf mencalonkan diri sebagai bendaharawan negara dalam pemerintahan Mesir kuno, karena ia merasa sanggup dan memiliki kemampuan untuk tugas itu. Perhatikan firman Allah SWT. Ini : "berkata Yusuf, 'Jadikanlah aku sebagai bendaharawan negeri (Mesir), sesungguhnya aku adalah orang yang pandai menjaga, lagi berpengetahuan luas'." (QS Yusuf [12]:55) 

Godaan kekuasaan memang sangat tinggi. Tetapi, jangan karena pamrih kekuasaan, agama, dan moralitas dikesampingkan. Kekuasaan dicapai dengan memberi bukti (kepada rakyat), bukan janji-janji (palsu).

Minggu, 04 Maret 2018

Serba-Serbi Medokan Ayu

Medokan Ayu merupakan daerah yang berada di zona sebelah timur dari Kecamatan Rungkut, Kota Surabaya. Awalnya merupakan daerah pertambakan namun setelah selesainya pembangunan jalan MERR menyebabkan tingkat percepatan pembangunan kian masif, sehingga banyak kita temui pemukiman warga baik yang berupa perumahan maupun perkampungan, begitupula sarana umum yang menyamai fasilitas di tengah perkotaan.

Dekatnya pusat perdagangan seperti Transmart Rungkut, Kawasan Industri SIER, wanawisata Mangrove, dan sedianya lembaga pendidikan dari PAUD hingga perguruan tinggi merubah wilayah ini  layaknya daerah yang sudah maju.

Dalam media ini, akan disampaikan serba-serbi dinamikanya.

Tempat Ibadah

Masjid Imadudin, Jl. Medokan Ayu gg Masjid no 122. juga ditempati pelaksanaan sholat Jumat dan 'Idain. Sebelah tenggaranya merupakan pemakaman umum Islam bagi warga RW II


Musholla As-Suyudi, Jl. Tambak Medokan Ayu gg VI, walaupun berdiri pada tanah wakaf dari keluarga Almarhum H.M Ghufron dengan berukuran 6x10 meter, tapi untuk memberikan kenyamanan jamaah telah terpasang tiga unit AC dan beberapa kipas angin dinding.
Selain digunakan tempat sholat berjamaah, juga sholat Idul Adha dan prosesi penyembelihan hewan qurban serta distribusi dagingnya.

Lembaga Pendidikan


SDN Medokan Ayu I merupakan bagian dari sekolah yang baru selesai direnovasi oleh Pemkot Surabaya, sehingga bangunannya tampak kokoh dan indah.

Madrasah Ibtidaiyah Negeri dan Madrasah Tsanawiyah Negeri berada di satu lokasi bersebelahan di Medokan Kampung,  sekolah yang menggunakan kurikulum Departemen Agama ini ditunjang dengan fasililitas lapangan sepak bola dan basket di sebelah baratnya.

Kampus

Kampus Universitas Pembangunan Nasional "Veteran" Jawa Timur ini sudah berstatus menjadi PTN dengan jurusan favorit teknik pertanian dan pangan, juga jurusan Teknik Industri, Teknik Kimia serta Akuntansi memiliki banyak peminatan bagi lulusan SMA sederajad di Surabaya.

Fasilitas Umum

Hall Badminton Sony Dwi Kuncoro terletak di Medokan Ayu Blok S no 17, memberikan kesempatan bagi warga untuk berlatih maupun mencetak bibit-bibit yang bisa mengharumkan nama bangsa.

Pasar

Penjual ikan yang berlokasi di perempatan antara Medokan Sawah dan Gunung Anyar sawah menjual aneka ikan segar dari tambak air tawar maupun air laut. buka pagi setiap hari.
Sebelah barat dari lokasi ini terdapat pasar yang menjual aneka kebutuhan rumah tangga.

Kuliner

untuk selera malam, menu nasi goreng mawut dari Pak De Tokol Medokan kampung ini perlu dicoba, lokasi di depan Musholla Ar-Rifai strategis untuk diakses terutama saat memasuki Gerbang Medokan Ayu.

Jasa Pangkas Rambut

Potong Rambut Ekspress Prasasty berada di Raya Tambak Medokan Ayu ini dikelola pak Said dengan ruang ber AC dan fasilitas plus pijat dengan biaya hanya Rp. 13.000,- menjadikan tempat ini recomended bagi warga sekitar

Jasa service

Bagi yang punya masalah dengan sepeda anginnya, maka service pak Gito solusinya. Bengkelnya terletak di sebelah utara dari SDN Medokan Ayu I.

cooming soon :
Makam Pahlawan
Klinik Dokter Umum
Apotik
Jual Air mineral
Foto copy



Jalbu Rizqy










Doa YaaSiin







Doa Surah Waqiah










Doa Surah Al-Mulk





Surah Yaa Siin




























GODAAN DUNIA


Dalam kisah Isro' Mi'roj, dunia secara simbolis digambarkan seperti wanita lanjut usia (lansia). Tetapi, meski sudah lansia, ia tetap ingin tampil lebih menarik. Ia tidak lupa percantik diri dengan dandanan dan aksesoris yang beraneka ragam. Itulah dunia, yang karena kecantikannya, sangat digemari manusia.

Meski usianya sangat tua manusia memang memiliki kecenderungan yang sangat kuat kepada dunia dan kemewahaannya. 

Alloh SWT. Berfirman : "dijadikan indah pada (pandangan) manusia kecintaan kepada apa apa yang diingini, yaitu wanita-wanita, anak-anak, harta yang banyak dari jenis mas, perak, kuda pilihan, binatang-binatang ternak, dan sawah ladang. itulah kesenangan hidup di dunia dan di sisi Alloh SWT tempat kembali yang baik (surga)" (Qs. Ali Imron [3]: 14).

( Ilustrasi : Perhiasan emas )

Perkataan dunia dalam ayat di atas, menurut Imam Al-Ghozali, dapat dipahami secara fisik dan non fisik, dunia menunjuk kepada benda-benda yang ada di alam ini, sedangkan secara non fisik (ruhani), dunia menunjuk kepada sikap dan perbuatan (amal) Al-Qulub, terhadap dunia itu sendiri. Seperti sikap lobah, serakah, sombong, dan membangggakan diri.

Bagi Al-Ghozali, semua sifat ini disebut dunia dalam arti batini atau ruhani.

Sebagai tokoh sufi, Al-Ghozali banyak memberikan nasehat dan tausiyah dalam soal dunia ini. Intinya, ia mengingatkan agar manusia tidak tergoda dan memperdaya oleh daya tarik dunia. 

Pesannya, "Wahai sekalian manusia, jangan sekali kalian condong pada dunia, karena ia suka menipu dan memperdaya. Tipu dayanya terkadang membuat kamu jatuh hati. Ia terus bersolek di hadapan para penggemarnya sehingga ia tak ubahnya seorang pengantin wanita yang sangat cantik jelita. Semua pandangan tertuju padanya. Semua orang terpikat dan merindukannya. Namun, jangan kalian lupa, betapa banyak orang yang merindukannya justru dibunuhnya, dan orang yang sepenuh hati mencintainya justru dihianatinya."

Agar tidak tertipu, menurut Al-Ghozali, setiap muslim perlu mengetahui hakikat dunia, termasuk mengetahui mana yang buruk, mana yang harus dijauhi, dan mana yang boleh diambil.
Dalam kaitan ini, dunia terbagi ke dalam tiga kategori :

Pertama, bagian dunia yang bernilai abadi dalam arti berguna dan bermanfaat bagi manusia di akhirat, yaitu ilmu dan amal.

Kedua, bagian dunia yang merupakan kesenangan sesaat dan tidak ada nilainya sama sekali di akhirat kelak, seperti bersenang senang dan berfoya-foya dengan kenikmatan dunia.

Ketiga, bagian dunia yang mendukung kebaikan akhirat. Bagian ini tidak sama dengan bagian pertama, tetapi merupakan pendukung dan sarana bagi terwujudnya bagian pertama.

Baca Juga :
Ayo Berjamaah
Malu
Masyarakat Ideal

Jumat, 02 Maret 2018

Pemimpin, Pengemudi Kehidupan Publik


Bangsa Indonesia saat ini sedang memasuki musim Pemilihan Kepala Daerah (Pilkada) maupun pada tingkatan nasional 2019 mendatang dengan pemilu, harus menyadari urgensi mencari pemimpin yang sesuai.

Ada tiga kriteria yang disebutkan bisa menjadi pertimbangan minimal, tapi mendasar dalam menentukan pilihan

Ketika Allah mengisahkan Bani Israel dalam Al-Qur'an, Allah menyebutkan :
"dan Kamu jadikan dari kalangan mereka pemimpin-pemimpin (aimmah)." 

Lalu Allah menyebutkan tiga kriteria utama pemimpin itu :

Pertama, "yahdunna bi amrina (tertunjuki dalam urusan Kami)" bahwa pemimpin itu memiliki petunjuk dalam kepemimpinannya, memiliki pengetahuan yang cukup dalam urusan kepemimpinannya. Maka seorang Walikota paham kotanya, dan seterusnya.

Kedua, "lamma shabaru." bahwa pemimpin itu memiliki kesabaran yang tinggi. Kesabaran itu adalah tingkatan tertinggi dari kekuatan mentalitas seseorang. Dalam konteks ini menjadi sangat mendasar karena tanpa kesabaran pemimpin boleh jadi menjadi diktator dan brutal.

Ketiga, "wa kaanuu bi aayaatina yuuqinuun." Bahwa pemimpin itu harus memiliki keyakinan atau self confidence. Seseorang pemimpin yang tidak percaya diri akan berat mengambil kesimpulan. dan akan mudah goyah serta terbawa arus berbagai kepentingan atau kecenderungan sekitarnya.

Maka Yuuqinuun adalah karakter pemimpin yang kuat dan tegas, tahu mengambil sikap dan keputusan, serta tidak mudah terpengaruh dan terombang-ombang, apalagi ketakutan.

oleh : Imam Shamsi Ali
Imam Masjid New York, Amerika Serikat

disarikan dari : Ummurrisalah Majalah Aula
02/Tahun XXX/ Februari 2018


MUHASABAH



Alkisah, hidup seorang tabiin saleh bernama Atha Al-Salami. Suatu hari Atha bermaksud menjual kain yang telah ditenunnya. Setelah diamati dan diteliti secara saksama oleh sang penjual kain, sang penjual kain mengatakan, "Atha sesungguhnya kain yang kau tenun ini cukup bagus, tetapi sayang ada cacatnya sehingga saya tidak dapat membelinya."

Begitu mendengar bahwa kain yang telah ditenunnya ada cacat, Atha termenung lalu menangis. Melihat Atha menangis, sang penjual kain berkata, "Ya Atha, sahabatku, aku mengatakan dengan sebenarnya bahwa memang kainmu ada cacatnya sehingga aku tidak dapat membelinya, kalaulah karena sebab itu engkau menangis, maka biarkanlah aku tetap membeli kainmu itu dan membayarnya dengan harga yang pas."

Tawaran itu dijawabnya, "Wahai sahabatku, engkau menyangka aku menangis disebabkan karena kainku ada cacatnya. Ketahuilah, sesungguhnya yang menyebabkan aku menangis bukan karena kain itu. Aku menangis karena aku menyangka bahwa kain yang telah kubuat selama berbulan-bulan ini tidak ada cacatnya, tetapi dimata engkau sebagai ahlinya ternyata ada cacatnya.

Begitulah aku menangis kepada Allah SWT. disebabkan aku menyangka bahwa ibadah yang telah aku lakukan selama bertahun-tahun ini tidak ada cacatnya. Namun, mungkin dimata Allah SWT. sebagai ahlinya ada cacatnya, itulah yang menyebabkan aku menangis."

( Ilustrasi : kain yang cacat )

Ada dua hikmah yang dapat kita ambil dari kisah tersebut diatas. Pertama, kita harus sering melakukan muhasabah terhadap segala amal kebaikan yang telah kita lakukan.

Abdullah Nashih Ulwan dalam kitabnya yang berjudul Rubaniyyah al-Da'yyah' menjelaskan, hakikat muhasabah adalah hendaknya seorang mukmin menghisab dirinya ketika selesai melakukan amal perbuatan: apakah tujuan amalannya untuk mendapatkan ridha Allah SWT., atau apakah amalannya disusupi sifat riya.

Kedua, jangan bersandar kepada amal yang telah kita lakukan untuk dapat masuk ke surga Allah SWT. Sebagaimana hadits yang disampaikan Rasulullah SAW., "Berusahalah setepat dan dan sedekat mungkin, ketahuilah bahwa amal salah seorang dari kamu tidak dapat memasukkannya ke surga." Sahabat bertanya, "Tidak juga engkau Wahai Rasulullah SAW. ?" 

Rasulullah SAW. menjawab, "Tidak juga aku, melainkan Allah SWT. mencurahkan kepadaku Ampunan dan Rahmad-Nya." (Muttafaqun A'laih). 

Syekh Ibnu Ataillah As-Sakandari di dalam kitabnya al-Hikam mengkatakan "Andai bukan karena keindahan tutupan Allah SWT., niscaya tidak suatu amal pun yang dapat diterima."

Semoga hati kita dibersihkan dari nifak, riya, dusta, dan khianat.