Senin, 09 April 2018

Dusta



Begitu banyak surat dan ayat suci Al-Quran serta hadits yang membahas masalah dusta. Allah SWT memang Mahatahu bahwa dari zaman ke zaman selalu saja ada manusia yang berbuat dusta, mulai dari dusta kepada Allah SWT hingga dusta antarmanusia.

Dalam surat Ali-’Imran ayat 34 tercantum : “Maka barangsiapa mengada-adakan dusta terhadap Allah SWT sesudah itu, maka merekalah orang-orang yang zalim.” 

Juga dalam surat Al-Nahl ayat 105. “Sesungguhnya yang mengada-adakan kedustaan hanyalah orang-orang yang tidak beriman kepada Allah SWT dan mereka itulah orang-orang pendusta.”

Selain dusta kepada Allah SWT banyak pula manusia berdusta kepada para Rasul atau Nabi. Dalam Surat Yusuf ayat 27 disebutkan: “Dan jika baju gamisnya koyak dibelakang maka wanita itulah yang dusta dan Yusuf termasuk orang-orang yang benar.”

Nyatanya Nabi Yusuf a.s benar, itu pertanda bahwa segala permusuhan, peperangan, bahkan antarumat Islam sendiri tak lepas dari akibat dusta.

Layaklah jika umat Islam menjauhkan perbuatan dusta, baik dusta dalam urusan dagang, pekerjaan, jasa, dalam menggunakan uang negara sebagai milik rakyat, bahkan dusta kepada keluarga sendiri. Ini karena dusta menjauhkan iman.


Hadis lain menyebutkan: “Tak ada perilaku yang lebih dibenci oleh Rasulullah Saw daripada dusta” (HR Ahmad bin Hanbal Al-Bazzar).

Allah pun berfirman: “Ingatlah bahwa laknat Allah SWT pada orang yang berdusta.”

Begitu pula bagi yang menjalankan ibadah puasa, Perbuatan dusta haruslah betul-betul dijauhi. Umar bin Khattab r.a. berkata: “Berpuasa tidak hanya tidak makan dan tidak minum saja, tetapi juga berpuasa dari dusta, perbuatan batil, dan sia-sia”. 

Begitu juga hadis Nabi : “Barang siapa yang tidak meninggalkan ucapan dan perbuatan yang tidak senonoh (dusta, memaki, mengumpat, dan sebagainya). Allah SWT sama sekali tidak butuh ia meninggalkan makan dan minum.” (HR Bukhari, Ahmad bin Hanbal, dan Ashhab al-Sunan).

Hal itu berarti bahwa puasa kita sia-sia belaka, sesuai hadis Nabi: “Bisa jadi orang yang berpuasa tidak memperoleh apa-apa dari puasanya selain lapar dan haus. Dan bisa jadi pula orang yang sholat dimalam hari tidak mendapatkan apa-apa dai sholatnya selain kantuk.” (HR Al-Nasa'i, Ibnu Majah dan Al Hakim). 


Rabu, 04 April 2018

ISTIGHFAR

(Ilustrasi : Imam Hasan Al-Bishri)

Hasan Al-Bishri, salah seorang ulama tabiin, suatu ketika didatangi oleh seseorang yang mengadukan tentang daerahnya yang kering kerontang dan tidak mendapat hujan. Maka, ia berkata "Mohonlah ampun kepada Allah SWT." 

Kemudian, datanglah seseorang mengadukan tentang kemiskinannya.
Ia pun berkata, "Mohonlah ampun kepada Allah." 

Tak lama kemudian, datang pula seseorang minta didoakan agar dikaruniai anak. Imam Hasan Al-Bashri pun menyuruhnya supaya beristighfar.

Kemudian datang lagi yang lain mengadukan tentang kebunnya yang tandus, beliau pun memintanya supaya beristighfar pula.

Hal ini membuat para sahabatnya menjadi penasaran dengan jawaban yang mereka berikan dan menanyakannya mengapa semua perkara tadi solusinya hanya satu, yaitu beristighfar?

Beliau pun menjawab,  "Saya tidak mengatakan semua itu secara asal-asalan. Tetapi, berdasarkan firman Allah SWT. dalam surat Nuh ayat 10-12 Artinya, "Maka aku katakan kepada mereka; mohonlah ampun kepada Rabb-mu, sesungguhnya Dia adalah Maha Pengampun, niscaya Dia akan  mengirimkan hujan kepadaku dengan lebat, dan membanyakkan harta anak-anakmu, dan mengadakan untukmu kebun-kebun dan mengadakan (pula didalamnya) untukmu sungai-sungai."

Begitulah kejelian seorang ulama yang tidak memandang satu persoalan dari sisi kulitnya saja, melainkan tertuju pada akar persoalan sebagaimana yang dibimbing oleh wahyu ilahi.



Bandingkan dengan orang-orang pada zaman sekarang yang hanya mengedepankan rasio saja dalam menganalisis masalah.

Bila negerinya tertimpa bencana apakah itu kekeringan, kebakaran, gempa bumi, banjir, wabah penyakit, hama tanaman, dan lain sebagainya mereka segera tidak segera berfikir bahwa semua itu tidak lain adalah akibat dari dosa-dosa yang dilakukanya.

Kerangka berpikir yang salah seperti inilah yang kemudian memunculkan kesalahan dalam mengambil solusi dari bencana yang menimpa. Padahal, Allah SWT. telah berfirman. "Dan apa saja musibah yang menimpa kamu maka adalah disebabkan oleh perbuatan tanganmu sendiri, dan Allah SWT, memaafkan sebagian besar (dari kesalahan kesalahanmu)" (Qs Al-Syura[42]:30).

Akhirnya, mereka hanya mengandalkan kekuatan otak dan materi belaka dalam menyelesaikan persoalan, sementara istighfar dalam arti sebenarnya yaitu mengikhlaskan niat kepada Allah SWT. dan menghentikan perbuatan-perbuatan dosa, yang merupakan bagian asal dari solusi permasalahan, tidak pernah tersentuh dalam pembicaraan apalagi sampai diamalkan. 

Kalau boleh dikatakan, hari ini kita adalah orang-orang yang melalaikan istighfar. Padahal, kalau melihat kondisi yang ada, sudah selayaknya kita lebih membutuhkan istighfar karena tingkat kemiskinan hari ini sangat jauh berlipat ganda. Hari-hari kita senantiasa diisi dengan dosa.

Bukankah zina, dusta, riba, ghibah, korupsi, mengurangi timbangan dan segudang dosa-dosa besar lainnya sudah menjadi barang biasa pada masyarakat sekitar? Ironisnya, dosa-dosa itu kita anggap sebagai angin lalu. Seakan tidak membahayakan diri kita. Na'udzubillah min dzalik

Sabtu, 31 Maret 2018

ISTIQOMAH


Seorang sahabat, Abu Amr bin Abdullah r.a, pernah meminta kepada Rasulullah Saw., "Ya Rasulullah, ajarkan kepadaku kalimat yang menyimpulkan pengertian Islam, sehingga saya tidak membutuhkan bertanya lagi kepada seorangpun selain engkau," Nabi Saw, menjawab, "Katakanlah, 'aku beriman kepada Allah Swt', kemudian tetap beristiqamahlah," (HR Muslim). 

Istiqomah adalah sikap teguh pendirian dalam ketauhidan dan secara konsisten tetap beramal shaleh. Istiqomah dapat pula diartikan lurus dalam berpegang pada prinsip keimanan. Tidak plin-plan atau mencla-mencle. Perilaku istiqamah tercermin dalam bentuk sejalannya perkataan yang diucapkan dengan perbuatan yang dilaksanakan.
Sejarah Islam mencatat sebuah fragmen sikap Istiqomah yang diperlihatkan oleh sahabat Bilal Bin Rabah r.a, yang dengan ketabahan dan kesabaran mampu bertahan dengan keimanan, walaupun mendapatkan siksaan yang berat sebagai intimidasi agar ia murtad dari agama islam.

Saat ini upaya pemurtadan baik secara tersamar maupun terang-terangan mulai merebak di lingkungan kita. 

Saudara kita yang memiliki keterbatasan ekonomi, tidak memiliki pekerjaan dan pendidikan, menjadi sasaran empuk. Dengan iming-iming terpenuhinya kebutuhan hidup, disediakannya pekerjaan yang layak dan memperoleh pendidikan yang memadai, asal berpindah agama, menjadi fenomena yang umum terjadi di sekitar kita. Bahkan, sampai pada upaya melegalisasi perkawinan beda agama.

Yang diincar adalah pemuda-pemudi Islam yang mudah dipengaruhi oleh kesenangan duniawi sesaat. Keterbatasan semacam ini membuat hati mereka waswas, sedih, dan khawatir tidak memperoleh kebahagiaan hidup. Padahal, sikap Istiqomah membawa kita kepada kemuliaan hidup yang lebih hakiki kelak.

Dalam hal ini, Allah Swt, berfirman, "Sesungguhnya orang-orang yang mengatakan, "Tuhan kami adalah Allah Swt.', kemudian mereka Istiqomah, maka malaikat akan turun kepada mereka dengan mengatakan, "Janganlah kamu takut dan sedih, dan bergembiralah kamu dengan surga yang telah dijanjikan Allah Swt. Kepadamu'," (QS Fushshilat [41]:30).

Dan dalam ayat yang lain, Allah Swt, berfirman "Sesungguhnya orang-orang yang mengatakan, "Tuhan kami adalah Allah Swt.', kemudian mereka tetap Istiqomah, maka tidak ada kekhawatiran mereka dan tidak pula bersedih hati. Mereka itulah penghuni surga, mereka kekal di dalamnya sebagai balasan atas apa yang mereka kerjakan," (QS Al-Ahqaf : 12-13).

Oleh karena itu, ada beberapa ikhtiar yang dapat ditempuh untuk memelihara sikap Istiqamah. 

Pertama, senantiasa memperbarui keimanan kita dengan melazimkan mengingat Allah (dzikrullah). Hal ini dapat dilakukan dengan melafalkan kalimat thayyibah.


Kedua, dengan menanamkan semangat kebersamaan dan persaudaraan (Ukhuwah Islamiyah) agar tumbuh kepedulian kepada saudara kita yang memiliki keterbatasan tadi. Hal ini dapat berbentuk aktivitas yang didasari dengan prinsip saling menasihati dalam menaati kebenaran dan menetapi kesabaran (QS Al-Ashr [103]:3) serta saling berpesan untuk berkasih sayang (QS Al Balad [90]:17).

ketiga, senang mengunjungi majelis ilmu untuk menambah pengetahuan dan wawasan keislaman.

Kamis, 29 Maret 2018

Generasi Qur'ani


Dalam usaha sukses pelaksanaan UNBK (Ujian Nasional Berbasis Komputer) maka dilaksanakan Istighotsah dan doa bersama oleh manajemen SMK Negeri 5 surabaya beserta siswa kelas XII.

Pelaksanaan terasa lebih istimewa karena bersamaan wisuda tahfidz ke-2 yang dilaksanakan di Masjid Darul Ilmi, dengan mengambil tema "Membentuk Generasi Qur'an Untuk Mewujudkan Peradaban Madani"

Acara digelar pada, Kamis 29 Maret 2018 sejak 06.30 sampai 11.30 wib.

Dalam sambutan H. Qomarudin, M.Hi (Dosen UIN Sunan Ampel Surabaya, sekaligus Ketua Jamiyyah Qurro wal Chuffadz Surabaya) beliau menyampaikan dari sekian kitab suci yang dimiliki oleh berbagai agama, hanya kitab suci Al-Qur'an saja yang bisa dihafalkan, ini menunjukkan bahwa Al-Qur'an merupakan langsung dari Allah SWT dan bukan buatan manusia.

















Rabu, 28 Maret 2018

Video & Kalimat Nasehat



( Keteladanan Sayiddah Fatimah, ra)
oleh : Alhabib Segaf Baharun, M.Hi

SYUKUR



Sepanjang hari, nikmat dan anugerah Allah SWT kita peroleh. Tidak usah jauh-jauh, marilah kita lihat diri kita sendiri secara fisik, kita diberi indra yang lengkap - penglihatan, pendengaran, penciuman, pernapasan, dan perasa - yang memungkinkan kita mengecap segala bentuk nikmat duniawi yang enak dan indah.

Atau lihatlah sekeliling kita, sinar mentari yang hangat, air dan udara yang bersih, pepohonan tempat berteduh, semua disediakan oleh Allah SWT untuk kita, tanpa membayar.

Itulah sebab Rasulullah SAW menganjurkan agar kita beribadah sebanyak mungkin, sebagai ungkapan syukur kita kepada-Nya, atas berbagai nikmat pemberian-Nya.

Allah SWT adalah Zat Mahasegalanya, jadi Dia tidak membutuhkan apapun dari kita. Allah SWT pun tidak membutuhkan ibadah kita, karena bagi dia tidak jadi soal apakah seluruh semesta menyembah-Nya atau malah ingkar kepada-Nya.

Ibadah kita kepada-Nya semata-mata berpangkal dari kesadaran kita sendiri, yakni kesadaran tentang keharusan untuk bersyukur kepada-Nya karena telah memberi kita begitu banyak nikmat. 

Rasulullah SAW pernah ditanya sahabatnya, mengapa beliau shalat sunat di malam hari (qiyamal-lail) sampai kakinya bengkak-bengkak, Bukankah beliau sudah diampuni segala dosanya yang akan datang, bukankah beliau sudah dijamin masuk surga? Jadi, buat apa beliau susah-susah memperbanyak ibadah? Beliau menjawab,” Tidak bolehkah aku bersyukur?” 

Jawaban ini menjelaskan bahwa tujuan ibadah bukan semata-mata untuk mengharap surga-Nya, atau agar terhindar dari neraka- Nya. Namun, lebih dari itu, ibadah adalah ekspresi rasa syukur kita kepada Allah SWT atas semua nikmat pemberian-Nya.


Allah SWT sendiri tidak suka kepada manusia-manusia yang enggan bersyukur. Dalan sebuah hadits qudsi, Dia berkata, “Siapa yang tidak mau bersyukur atas nikmat pemberian-Ku, dan tidak mau bersabar atas cobaan-Ku, maka silahkan saja ia keluar dari kolong langit-Ku dan silahkan ia cari Tuhan selain Aku!”

Dalam tatanan paling mendasar, rasa syukur bisa diwujudkan dengan cara menjaga nikmat Allah SWT agar tidak digunakan dijalan maksiat. 

Kita biasa mengucap hamdalah atau mungkin memperbanyak ibadah murni (mahdhah) dan ibadah-ibadah sunat lainnya, sebagai ungkapan rasa syukur kita kepada-Nya karena telah memberi karena telah memberi kita nikmat yang tak terkira. Namun,semua itu tidak akan ada artinya sama sekali ,jika di sisi lain dan bersamaan dengan itu, kita masih saja melakukan maksiat kepada Allah Swt. Dengan menggunakan fasilitas nikmat pemberian-Nya.

Misalnya saja kita sering shalat dan puasa sunat, katakanlah itu kita lakukan sebagai ungkapan syukur. Tetapi kita juga tidak bisa meninggalkan ucapan jorok, menggunjingkan saudara, dan sebagainya, ya apa gunanya. Karena itu, tentu saja, yang paling baik adalah bila kita rajin shalat dan puasa dan pada waktu bersamaan kita bisa menjaga mulut dan perilaku dari hal-hal yang tidak baik. Itulah antara hakikat dari rasa syukur.

Selasa, 27 Maret 2018

Godaan Orang Berilmu

(Ilustrasi : Godaan setan)

Menuntut ilmu pengetahuan merupakan sebuah kewajiban yang memerlukan kehati-hatian.

Allah SWT menyiapkan ujian yang harus kita lalui agar menjadi seorang penuntut ilmu yang ikhlas dan memberikan manfaat untuk manusia lain. 

Rasullullah bersabda, "Barangsiapa yang menuntut ilmu untuk bersaing dengan ulama atau untuk berdebat dengan orang jahil atau untuk menarik perhatian orang lain, maka ia akan masuk neraka" (Abu Hurairah). 

Hadits ini memberikan perincian tentang godaan yang sering dialami oleh para penuntut ilmu dan para ilmuan dalam proses pengamalan ilmunya. 

Memang, dalam Al-Qur'an disebutkan bahwa Allah akan meninggikan derajat orang yang memiliki ilmu. Dalam surat Al-Mujadilah ayat 11, Allah SWT Berfirman, "Allah SWT akan mengangkat derajat orang-orang yang diberikan ilmu pengetahuan."

Banyak lagi kelebihan yang diberikan Allah SWT kepada orang yang berilmu, baik di dunia maupun di akhirat kelak.

Bukankah para malaikat mau bersujud kepada Nabi Adam a.s. setelah Allah SWT mengajarkan beberapa ilmu kepada Nabi Adam a.s., ketika sebelumnya malaikat meragukan manusia karena menganggapnya sebagai makhluk yang suka permusuhan.

Tujuan pokok kita menuntut ilmu adalah untuk semakin tunduk dan patuh kepada ajaran Allah SWT semakin tinggi ilmu yang kita raih, semakin baik ibadah kita. Bukan sebaliknya, sebanyak ilmu yang kita miliki, semakin berani terhadap larangan-larangan Allah SWT.


Di antara godaan tersebut yaitu bersifat riya dan bangga dengan ilmu yang diberikan Allah SWT, sifat ini memang sering menggoda dan hanya orang yang dilindungi Allah SWT yang bisa menghindarinya. 

Godaan pertama yang akan dihadapi adalah perasaan ingin dianggap ilmuwan agar bisa bersaing dengan ilmuwan lain. Pikiran dan emosi hanya disibukkan dengan melihat orang lain dan berusaha untuk mengunggulinya sehingga melupakan tujuan dasar menuntut ilmu. 

Godaan kedua, ini peringatan untuk orang yang suka berdebat dengan orang lain. Ilmu yang diberikan Allah SWT hanya untuk menyombongkan diri dengan keinginan untuk mengalahkan orang lain dalam berdebat agar menganggap kita lebih hebat dari lawan debat kita. 

Perdebatan tidak akan memberikan hasil apa-apa kecuali sifat bangga dengan ilmu yang dianugerahkan Allah SWT.

Dalam sebuah ayat, Allah SWT berfirman, "Taatlah kamu kepada Allah SWT dan Rasul dan jangan suka berbantah-bantahan, karena itu hanya mengakibatkan kegagalan dan menghilangkan wibawamu. Bersabarlah, sesungguhnya Allah SWt bersama orang yang sabar" (QS Al-Anfal [8]: 46)

Godaan ketiga, menuntut ilmu agar orang lain memperhatikan kita. Ini biasa terjadi bagi penuntut ilmu yang merantau ke daerah lain. Ketika pulang kampung, misalnya, ada keinginan untuk dimuliakan orang karena kita diberi Allah SWT kesempatan kuliah, sedangkan teman-teman yang lain cuma tamat sekolah menengah saja. 

Mudah-mudahan dengan kembali merenungkan tujuan menuntut ilmu, kita semakin taat kepada Allah SWT dan bisa menghindarkan diri dari godaan yang akan menjerumuskan kita ke dalam neraka. Amin. []