Selasa, 20 Maret 2018

Rutinan Sholawat Nariyah



Hari.    : Senin
Tgl.      : 19 Maret 2018
Jam.    : 21.00-Selesai
Tempat: Abah MULYONO Medokan Ayu Rt 2 RW 3 Rungkut, Surabaya

Informasi organisasi :

(Disampaikan dr.Sukma Sahadewa)

1. Rekomendasi Hasil Raker Nariyah di Batu, berniat ibadah umroh dan bersholawat Nariyah di Makam Rasulullah SAW, Masjid Nabawi Madinah

2. Sifatnya tidak memberatkan dan mengikat

3. Menabung setiap mingguan setelah  rutinan nariyah secara kolektif, antara 100ribu - 200ribu, agar saat tiga tahun terkumpul tabungan untuk pembiayaan travel umroh.

4. Setoran awal minimal 100ribu beserta tabungannya tidak dapat ditarik lagi kecuali untuk biaya berangkat umroh atau yang bersangkutan meninggal dunia

5. Bekerjasama dengan Bank Mandiri Syariah, dengan mengisi formulir pendaftaran dan melampirkan fotocopy KTP dan NPWP (Nomor Pokok Wajib Pajak)

6. Dibentuk Koordinator Ranting untuk penarikan tabungan, (Nama personal yang ditunjuk menyusul)

7. Dengan menabung 200ribu perminggu, Maka Perhitungan tabungan selama 3 tahun, dapat terkumpul kisaran 20juta, (mendekati besaran biaya umroh reguler)

8. Diperbolehkan mengajak isteri dengan tabungan bisa didobel dua kali lipat perminggunya

9. Travel umroh akan ditentukan sebelum keberangkatan.

10. Seumpama pada tiga tahun ada kekurangan tabungan untuk biaya travel umroh, maka akan dipinjami dana talangan, yang sifatnya bisa dilunasi setelah keberangkatan

11. Dalam pekan depan, bagi yang berniat dapat mengambil formulir di Gubug Nariyah- Pasar Soponyono Rungkut.

Tambahan Informasi dari KH. Abdul Mujib, selaku Koordinator JasNU  :

12. Sholawat Nariyah masuk ke dalam lembaga pendidikan, sehingga mulai senin depan akan bertempat di Yamassa beralamat Kedungasem no.80 Surabaya (waktu pelaksanaan menyusul)

Foto Dokumentasi :









Dokumentasi Video :


Pembagian Souvenir sarung dari Sohibul Bayt




Senin, 19 Maret 2018

ADIL



Suatu hari, seorang musafir bermaksud mencari tempat berteduh karena usai melakukan sebuah perjalanan. Lalu tidak lama kemudian dijumpailah sebuah pohon beringin yang rindang dan lebat daunnya. 

Baca juga :
Sholat Jama' Qashar

Disandarkanlah tubuhnya yang berat pada pohon beringin itu. Ditatapnya hamparan sawah di depannya, dan dijumpainya buah-buah semangka sebesar bola di sawah tersebut. 

Berkata sang musafir "Sungguh Allah SWT tidak adil, disaat buah pohon beringin sebesar buah anggur, buah semangka sebesar itu" disandarkannya tubuhnya yang berat pada pohon beringin itu. 

Tiba-tiba sebutir buah pohon beringin jatuh mengenai di atas kepala sang musafir. Berkatalah dalam hati "Jika buah beringin ini sebesar semangka, bagaimanakah jika menimpa orang yang berteduh dibawahnya. Sungguh Allah SWT Maha Adil"


(Ilustrasi : Buah Beringin)

Dari cerita di atas mungkin sederhana, tapi banyak yang bisa diambil hikmahnya. Manusia seringkali berprasangka buruk kepada Allah hingga tidak melihat sisi baiknya. "Boleh kamu membenci sesuatu padahal ia amat baik bagimu, Allah SWT Maha Mengetahui sedangkan kamu tidak" (Al-baqarah(2): (216)

Sholat Jama' Qashar



Bagi orang dalam perjalanan, bepergian, diperbolehkan menyingkat shalat wajib yang empat rakaat menjadi dua rakaat dengan syarat sebagai berikut :

  1. Jarak perjalanan sekurang-kurangnya dua hari perjalanan kaki atau marhala (sama dengan 16 Farsah =+- 81 km)
  2. Bepergian bukan untuk maksiyat
  3. Sholat yang boleh diqashar hanya sholat yang empat rakaat saja
  4. Niat mengqashar pada waktu takbiratul ihram
  5. Tidak pada orang yang bukan musafir

Niat Sholat Dhuhur dan Ashar dengan qashar sekaligus jama' taqdim



Niat sholat Dhuhur dan Ashar dengan qashar sekaligus jama' ta'khir


Niat sholat Isya' dan Maghrib dengan qashar sekaligus jama' ta'khir


Keterangan :

Untuk selanjutnya niat bisa dirubah disesuaikan dengan kebutuhan atau sholat yang dikerjakan.

Bila yang dikerjakan sholat Dhuhur tentunya lafal didahulukan

Apabila sholat Ashar yang dikerjakan, maka lafal Ashri yang didahulukan, begitu seterusnya

Minggu, 18 Maret 2018

Menjadi Guru Teladan (Bagian 2)


(Sambungan dari Menjadi Guru Teladan Bagian 1)

Ada beberapa hal yang patut diperhatikan oleh seorang guru supaya mampu mengantarkan murid-muridnya ke pintu Allah SWT. dan mendekatkan mereka dengan-Nya.

Pertama, seorang guru harus berperan layaknya orang tua bagi murid-muridnya. Dalam suatu kesempatan Al-Ghazali berkata, "Hak guru atas muridnya lebih agung dibanding hak orang tua terhadap anaknya. orang tua hanya menjadi penyebab hidupnya seorang anak di dunia fana, dan guru menjadi penyebab sang anak di alam yang kekal sana."

Kedua, seorang guru harus berperan sebagai pewaris para nabi. Artinya, sebagaimana seorang nabi, seorang guru tidak boleh menempatkan keuntungan materi sebagai tujuan utamanya mengajar. tentang hal ini Allah SWT berfirman :


"Dan, (dia berkata), "Hai kaumku, aku tiada meminta harta benda kepada kamu (sebagai upah) bagi seruanku. Upahku hanyalah dari Allah, dan aku sekali-kali tidak akan mengusir orang-orang yang telah beriman. Sesungguhnya, mereka akan bertemu dengan Tuhannya, akan tetapi aku memandangmu suatu kaum yang tidak mengetahui." (QS. Huud : 29)

Ketiga, guru harus mampu memberikan nasihat-nasihat yang baik kepada muridnya.

Keempat, mencegah murid dari akhlaq yang buruk dengan jalan sindiran. Menegur murid yang berbuat salah dengan cara menyindirnya jauh lebih baik daripada harus membentaknya kasar.

Rasulullah SAW telah mencontohkan hal itu. Anas bin Malik berkata, "Ketika kami berada di dalam masjid bersama Rasulullah SAW., tiba-tiba datang seorang Badui. Lalu, ia (Badui) kencing di dalam masjid. para sahabat berseru, "Tahan ! Tahan !" kemudian, Rasulullah SAW berkata, Janganlah kalian ganggu  Biarkanlah ia." Maka, para sahabat membiarkannya sampai ia selesai kencing. Selanjutnya Rasulullah SAW memanggilnya seraya berkata, "Sesungguhnya, masjid-masjid ini tidak pantas dikenai sesuatu dari air kencing dan kotoran. Masjid adalah untuk dzikrullah, sholat, dan membaca al-Qur'an (HR. Bukhari dan Muslim)

Kelima, tidak memburukkan ilmu-ilmu yang di luar keahlian dan skill-nya. Seringkali, seorang guru mengagungkan ilmunya sendiri, merendahkan disiplin ilmu lain. Padahal semua ilmu itu bermanfaat bagi muridnya.

Keenam, menyampaikan ilmu kepada murid sesuai kadar pemahamannya. murid bosan dengan pelajaran apabila disampaikan dengan cara dan teknik yang salah. Sebaliknya, murid bisa senang dengan satu mata pelajaran apabila gurunya juga menyenangkan.

Etika ini bisa diamalkan dan dilakukan supaya seorang guru bisa mengantarkan muridnya ke puncak kesuksesan, dunia dan akhirat.

Baca pula :
Menjadi Guru Teladan (Bagian 1)
Ahli Waris Al-Qur'an

Sabtu, 17 Maret 2018

Terapi Berfikir Positif


Dalam al-Khawathir, Syekh Muhammad Mutawalli al-Sya'rawi mengatakan, "Pikiran adalah alat ukur yang digunakan manusia untuk memilih sesuatu yang dinilai lebih baik dan lebih menjamin masa depan diri dan keluarganya."

Dalam Quwwat al-Tahakkum fi al-Dzat, kalimat bijak dari filsafat kuno, "Hari ini anda tergantung pada pikiran yang datang saat ini. Besok anda ditentukan oleh ke mana pikiran membawa anda.

Dalam Aladdin Factor, karya Jack Canfield dan Mark Victor Hansen, ditemukan informasi yang menghentak kesadaran, disebutkan bahwa setiap manusia setiap hari menghadapi lebih dari 60.000 pikiran. Satu-satunya yang dibutuhkan sejumlah besar pikiran adalah pengarahan.

Jika arah yang ditentukan bersifat negatif maka sekitar 60.000 pikiran akan keluar dari memori ke arah negatif. Sebaliknya, jika pengarahannya positif maka sejumlah pikiran yang sama juga akan keluar dari ruang memori ke arah yang positif

(Ilustrasi : Pikiran)

Pada 1986, penelitian Fakultas Kedokteran di San Fransisco menyebutkan bahwa lebih dari 80% pikiran manusia bersifat negatif. Hasil penelitian ini memperkuat pernyataan bahwa nafsu cenderung pada keburukan (ammarah bi al-su'). Dengan perhitungan sederhana 80% dari 60.000 pikiran, berarti setiap hari kita memiliki 48.000 pikiran negatif.

Semua itu mempengaruhi perasaan, perilaku, serta penyakit yang mendera jiwa dan raga. Jika demikian kita harus ekstra hati-hati dalam memilih pikiran di benak kita.

Kini saatnya memilih berbagai pikiran seperti halnya memilih makanan yang kita santap dan pakaian yang kita kenakan. Untuk mewujudkan semua itu, harus tetap tawakal kepada Allah SWT.

Mari mulai dari memahami arti pikiran dan kekuatannya, karena Pikiran adalah kekuatan. 

Dalam Al-Qur'an Allah membedakan antara orang yang berilmu dan yang tidak.
Firman Allah, Katakanlah, "Apakah sama orang-orang yang mengetahui dengan orang-orang yang tidak mengetahui?" (al-Zumar : 9)

Karena itu, mari mulai menjelajahi kekuatan pikiran

(disarikan dari : Terapi Berfikir Positif, Dr. Ibrahim Elfiky)


Jumat, 16 Maret 2018

Menjadi Guru Teladan (Bagian 1)


Guru ada dua macam, guru hikmah dan guru ilmu. Perangai seorang guru mengantarkanmu ke pintu Allah, membawamu mendekatkan diri kepada Allah SWT. ( Syeikh Abdul Qadir al-Jailani, Rasail asy-Syaikh Abdul Qadir Jailani, Lebanon, Dar al-Jail, tanpa tahun, hal. 91)

Guru adalah orang yang memberikan ilmu dan pengetahuan kepada kita. yang mentransferkan ilmunya kepada murid-muridnya.

Guru adalah profesi mengajar tanpa menuntut balasan, kecuali hanya menuntut balas dari Allah SWT. hal ini ditegaskan dalam firmannya :


"Hai orang yang berkemul (berselimut), bangunlah, lalu berilah peringatan ! Dan, Tuhanmu Agungkanlah ! Dan, pakaianmu bersihkanlah ! Dan, perbuatan dosa tinggalkanlah. Dan, janganlah kamu memberi (dengan maksud) memperoleh (balasan) yang lebih banyak. Dan, untuk (memenuhi  perintah) Tuhanmu, bersabarlah." (QS. al-Muddatstsir : 1-7)

Ayat tersebut merupakan perintah kepada Rasulullah SAW agar bangun dan memberi peringatan, ajaran, dan pendidikan kepada umatnya.

Beliau diperintahkan berpakaian rapi, bersih dan bersabar dalam mengerjakan tugasnya sebagai guru pengajar

Guru mempunyai banyak peranan yang harus dijalankan. Sebagai pengajar, pembimbing, pemimpin, dan harus bisa menjadi teladan bagi murid-muridnya.

Peranan ini tidaklah mudah untuk berada dalam satu pribadi manusia. Hanya orang yang memilki jiwa besar yang mampu melaksanakan tugas besar tersebut.

Sebab, ia seakan sedang mencetak generasi masa depan.

Gagal menjadi seorang guru yang baik, maka sama saja menggagalkan generasi penerus.

Oleh karena itu, dalam nasehat Syeikh Abdul Qadir Jailani mengatakan ada dua macam guru :
  1. Guru Ilmu, yaitu guru yang hanya bisa menyampaikan ilmu pengetahuan dan menerangkan pelajaran di kelas
  2. Guru Hikmah, yaitu guru yang memberikan hikmah kehidupan, mencetak generasi berbudi sekaligus cerdas. Perangai guru inilah yang akan mengantarkan anak didik  pada keberhasilan di dunia maupun akhirat.
Ada beberapa hal yang patut diperhatikan oleh seorang guru.......(bersambung Menjadi Guru Teladan bagian 2)

(Kumpulan Nasihat Emas Jalaluddin Rumi, Imam Al-Ghazali, dan Syeikh Abdul Qadir Jailani)

Baca Pula :
Kebahagiaan
Bahasa yang baik

Kamis, 15 Maret 2018

Jalan Tengah Antara Syariat dan Tasawuf

Imam Ghazali menyebutkan setidaknya ada tiga jalan menuju kepada Allah atau at-thuruq ilallah. Tiga model tersebut adalah lewat tahalli, takhalli serta tajalli

Berangkat dari at-tahhli fil fadhail. artinya menghiasi diri dengan ibadah keutamaan sebagaimana dianjurkan dalam agama. 

Melaksanakan sunnah Rasul yang memang diperintahkan, ditekuni sehingga akhirnya bisa merasakan kehadiran Allah SWT. 

Meskipun ihtiar ini lumayan lama untuk sampai pada tujuan yang ingin diraih karena melibatkan ruh dan jasad sekaligus dengan lebih mengandalkan kemampuan fisik

Sedangkan yang kedua adalah takhalli 'anir radial, yakni mengosongkan diri dari kotoran jiwa, seperti hasud, iri, dengki, sombong, riya, egoisme, atau ananiyah yang tinggi, bakhil dan sebagainya.

Selanjutnya Tajalli birabbiljalil merupakan hasil kombinasi antara metode pertama dan kedua, atau lantaran mendapatkan iradatullah yakni mendapatkan anugerah langsung dari Allah SWT sebagaimana yang dialami Nabi Isa, ruhul qudus.

Sedangkan iradatullah ini berlaku kepada para wali yang dikenal dengan karomah jiwa yang bersih dan terlahir dengan ruhani yang hidup. disebut dengan neoropsikosufistik. Yakni ada kaitan antara neorologi, psikologi, dan tasawuf. dan ini pula yang dituliskan Imam Al-Ghazali dalam salah satu kitabnya.

Masing-masing tahapan tersebut juga berbeda amalannya, beberapa melakukannya dengan taqlilut tha'am (mengurangi makan) atau taqlilul niyam (membatasi tidur), taqlilul kalam (sedikit bicara), katsaratul dzikri wal mujahadah yakni memperbanyak dzikir dan mujahadah.

(Ilustrasi : Aneka Makanan Lezat)

Para ulama sufi memasyarakatksn dzikir sebagai thariqah yang populer karena sebagai cara termudah dan murah untuk dapat kenal dan cepat wushul kepada Allah SWT. selalu memandang diri berada dalam pengawasan Allah SWT.

Imam Al-Ghazali bisa menjelaskan hikmatus tasyri' dan syariat dengan tasawufnya, demikian pula tasawufnya berbasis syariat. 

Berada pada poros tengah untuk menjadi jalan tengah antara syariat dan tasawuf sehingga banyak pengikutnya dari kaum sunni hingga sekarang.

Disarikan dari tulisan :
Kharisuddin Aqib, Menemukan Jalan Tengah antara syariat dan tasawuf

Majalah Aula, Maret 2018

Baca Pula :
Sholawat Nariyah
Agenda Rutinan Musholla As-Suyudi